Silaturahmi Imlek 2577 Kongzili Teguhkan Harmoni dan Toleransi

  • 11 Feb 2026 14:56 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di Pendopo Kota Bandung saat Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menggelar silaturahmi tokoh agama dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili tingkat Kota Bandung tahun 2026, Rabu 11 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi simbol kuat harmoni antarumat beragama sekaligus perayaan keberagaman yang telah lama menjadi ciri khas Kota Bandung.

Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh lintas agama, perwakilan organisasi kemasyarakatan, serta unsur Forkopimda. Momentum ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang refleksi bersama tentang pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Wakil Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN), Fam Kiun Fat, dalam sambutannya mengajak hadirin untuk memahami makna Imlek dari perspektif sejarah dan spiritual umat Konghucu. Ia menjelaskan bahwa penanggalan Kongzili berakar dari ajaran Nabi Kongzi yang lahir pada tahun 551 sebelum Masehi, dengan sistem kalender yang mengikuti peredaran bulan dan siklus musim.

Menurutnya, bagi umat Konghucu, perayaan Imlek bukan sekadar tradisi budaya tahunan, melainkan momentum keagamaan yang sarat dengan nilai refleksi, introspeksi, dan pembaruan diri.

“Imlek mengajarkan kita untuk kembali pada nilai kebajikan, memperbaiki diri, serta memperkuat persaudaraan. Keberagaman adalah kekuatan yang harus kita jaga bersama,” ujar Fam Kiun Fat, rabu 11 Februari 2026.

Baca juga : Pemkot Tegaskan Penutupan Tempat Hiburan Malam Selama Ramadan

Ia juga menyinggung perjalanan panjang pengakuan hak-hak umat Konghucu di Indonesia yang kini semakin terbuka dan diakui secara penuh. Dalam kesempatan itu, ia mengapresiasi komitmen Kota Bandung yang dinilainya konsisten merawat toleransi dan memberikan ruang yang setara bagi seluruh umat beragama.

Fam Kiun Fat turut mengundang masyarakat luas untuk menikmati perayaan malam Imlek di kawasan Cibadak serta sejumlah klenteng di Kota Bandung. Menurutnya, perayaan tersebut terbuka bagi semua kalangan sebagai bagian dari wisata religi dan budaya yang memperkaya khazanah kota.

Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa silaturahmi lintas agama ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menjadikan Bandung sebagai kota yang inklusif dan toleran. Ia mengingatkan, sejak akhir 2024, Pendopo Kota Bandung secara rutin menjadi ruang doa bersama lintas agama sebagai simbol persatuan dan kebersamaan.

“Kota Bandung adalah rumah bagi semua. Kerukunan bukan hanya slogan, tetapi fondasi kehidupan sosial kita. Dari sinilah kita membangun rasa saling percaya,” katanya.

Farhan juga menyampaikan rencana dukungan operasional bagi rumah ibadah lintas agama sebagai bentuk penguatan kehidupan beragama yang setara dan harmonis di Kota Bandung. Menurutnya, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh umat dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.

Dalam sambutannya, Farhan turut mengaitkan pentingnya toleransi dengan kerja kolektif dalam menyelesaikan berbagai persoalan kota, terutama pengelolaan sampah. Ia menilai, tantangan lingkungan hanya dapat diatasi melalui partisipasi aktif seluruh warga tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun golongan.

“Sampah adalah masalah bersama. Penyelesaiannya pun harus bersama-sama. Toleransi bukan hanya soal keyakinan, tetapi juga tentang kerja nyata untuk masa depan kota yang lebih bersih dan berkelanjutan,” ucapnya.

Saat ini, Pemkot Bandung tengah menjalankan program pemilahan sampah berbasis wilayah hingga pengembangan kawasan zero waste sebagai bagian dari transformasi lingkungan kota. Program tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran kolektif warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Perayaan Imlek 2577 Kongzili tahun ini mengusung semangat nasional “Harmoni Imlek Nusantara”, yang mendorong ekspresi budaya dan kreativitas di berbagai daerah. 

Bandung sebagai kota kreatif didorong untuk menjadikan momen Imlek sebagai ruang kolaborasi seni, busana, kuliner, hingga pertunjukan budaya yang melibatkan berbagai komunitas.

Farhan menilai, perayaan Imlek bukan hanya milik satu komunitas, tetapi juga bagian dari kekayaan identitas bangsa Indonesia yang majemuk.

“Bandung tumbuh dari kebersamaan. Perbedaan justru memperkaya kita. Melalui Imlek, kita merayakan persaudaraan dan meneguhkan komitmen untuk terus menjaga harmoni,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....