Dukungan Pemerintah Penting Jaga Ekosistem Radio Tetap Hidup
- 18 Feb 2026 17:34 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menjaga keberlangsungan ekosistem radio agar tidak mengalami penyusutan bahkan mati di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Dukungan tersebut dinilai krusial agar dunia penyiaran tetap tumbuh dan relevan, dengan kunci utama pada penguatan sumber daya manusia serta keberpihakan kebijakan anggaran.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan keberlanjutan radio tidak bisa dilepaskan dari dukungan pemerintah, baik melalui kebijakan maupun politik anggaran yang berpihak pada pengembangan ekosistem penyiaran.
“Support dari pemerintah sekarang ini terhadap radio sangat penting agar ekosistemnya jangan sampai mengecil dan mati. Ekosistem dunia penyiaran harus tetap berkembang, kuncinya ada dua, salah satunya pengembangan sumber daya manusia,” ujar Farhan saat ditemui di Cihampelas Walk, Kota Bandung, Minggu 8 Februari 2026.
Farhan mengungkapkan, dirinya sempat berdiskusi dengan Ketua Komisi Penyiaran Daerah (KPID) Jawa Barat terkait pentingnya keberpihakan politik anggaran untuk mendukung industri penyiaran, khususnya radio.
“Keberpihakan politik anggaran itu menjadi sangat penting. Pada saat bersamaan, kita juga harus patuh terhadap berbagai regulasi yang diterapkan oleh KPID dan Balai Monitor (Balmon) Kementerian Komunikasi dan Informatika,” jelasnya.
Selain kepatuhan regulasi, Farhan menekankan bahwa insan penyiaran juga harus peka terhadap dinamika dan isu yang berkembang di masyarakat. Ia mencontohkan peran strategis radio dalam menjaga kondusivitas Kota Bandung saat terjadi situasi rawan.
“Saya bersama Polresta Kota Bandung dan Kodim Kota Bandung pada 29–31 Agustus lalu, ketika terjadi kerusuhan, menggunakan radio sebagai salah satu platform untuk menenangkan masyarakat agar tidak terpengaruh hal-hal yang provokatif,” ungkapnya.
Menurut Farhan, radio masih memiliki kekuatan besar sebagai media komunikasi publik yang cepat, dipercaya, dan mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, terutama dalam kondisi darurat.
Sementara itu, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf)/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar, menilai perjuangan mempertahankan radio dan industri kreatif tidak selalu identik dengan kesulitan, melainkan proses yang justru mampu mempererat kolaborasi.
“Perjuangan itu nggak selalu sedih kok. Perjuangan itu yang merapatkan kita semua. Seperti dulu waktu kita kuliah memperjuangkan IPK, dari situ kita belajar berjuang dan merapatkan barisan,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa semangat perjuangan juga dirasakan di seluruh sektor ekonomi kreatif. Menurutnya, dunia saat ini tengah berada dalam persimpangan, apakah hanya menjadi pengikut atau justru menjadi pemimpin yang membawa perubahan positif.
“Pertanyaannya sekarang, kita mau jadi followers atau leader yang mengubah dunia ke arah yang lebih baik. Dan saya merasa Indonesia bisa menjadi leader tersebut,” katanya.
Irene mengajak seluruh insan kreatif, termasuk pelaku radio, untuk bersama-sama memikirkan model bisnis yang adaptif dengan perkembangan zaman. Ia menilai model bisnis radio ke depan tidak bisa hanya bergantung pada iklan semata.
“Yuk kita mikirin bareng-bareng business model-nya seperti apa. Apakah radio masih main income berbasis iklan, atau ke depan berbasis komunitas, berbasis para listeners. Ini business model yang harus mulai kita godok,” paparnya.
Ia menambahkan, infrastruktur penyiaran saat ini sejatinya sudah memadai. Dengan dukungan teknologi digital, jangkauan radio tidak lagi terbatas pada wilayah lokal.
“Bukan hanya melihat ‘oh saya radio Bandung, maka saya hanya melayani teman-teman di Bandung’. Dengan perkembangan teknologi, apa yang kita layani sekarang adalah global audience,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....