Sejarah Keterkaitan Manusia dan Gunung
- 26 Jan 2026 13:20 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Gunung banyak memberikan manfaat bukan hanya untuk manusia, tetapi untuk seluruh mahluk hidup yang ada di dunia. Dampak ketika manusia tidak memahami cara hidup berdampingan dengan alam, maka banyak musibah dan bencana yang akan terjadi.
Di dalam buku yang berjudul “Manusia dan Gunung” yang ditulis oleh Pepep Didin Wahyudin (DW), menjelaskan bahwa Pada bagian “teologi gunung”, dipaparkan pembahasan tentang gunung yang disebutkan sebanyak 60 kali dalam alquran. Penyebutan tersebut mewakili keberadaan manusia sebelum diturunkan ke muka bumi, mewakili keberadaan manusia ketika hidup di muka bumi, dan mewakili akhir keberadaan manusia di muka bumi (kiamat).
Gunung Para Petapa Jika Rosul pergi ke gunung untuk melakukan tahannuts, di Timur peristiwa tersebut disebut tapabrata. Jika Nabi kemudian mengamalkan temuannya di gunung pada masyarakat, di Timur beberapa sosok berakhir dengan moksa, ngahiang, “abadi” di gunung-gunung.
Maka, gunung pada bagian ini dikenal juga sebagi tempat yang identik dengan para petapa. Bagian ini membahas gunung Bandung yang dijadikan pertapaan Bujangga Manik sebelum akhirnya ngahiang di tempat lain.
Gunung yang sakral sebagai tempat bertapa tersebut kondisinya hari ini begitu sangat memprihatinkan, bahkan kerusakannya telah menyentuh bagian puncak. 700 Gunung Bandung ,Gunung dalam bahasa Sunda merupakan konsep tentang “unggul - unggulan”, dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “khusus”, merujuk pada sesuatu hal yang “spesial”, “menonjol” dalam arti memiliki keunggulan atau kelebihan.
Catatan Nusakendeng relatif sulit ditemukan, kecuali kode-kode dari kidung pantun Sunda dan catatan Eropa seperti; Raffles dan Jonathan Rigg pada awal abad XIX. Selain itu terdapat pula dalam pengetahuan masyarakat Nusantara yang terekam dalam cara memperlakukan gunung-gunung.
Bagian ini membahas sisi gunung sebagai pencatat sebuah peradaban. Hal ini disebabkan melalui kajian tentang gunung, khususnya gunung kendeng, kita bisa menemukan peradaban lampau yang sudah mengenal jarigan gunung-gunung yang barangkali hari ini identik dengan konsep “ring of fire”.
(Rujukan: Buku Manusia dan Gunung, Penulis: Pepep Didin Wahyudin/Pepep DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....