Bullying Anak Berkebutuhan Khusus, Almadina Ungkap Dampaknya
- 21 Jan 2026 15:40 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Kasus perundungan terhadap anak berkebutuhan khusus di Bandung kembali menjadi sorotan publik. Aktivis Komunikasi Keluarga dari Universitas Pasundan Bandung sekaligus Wakil Ketua KPID Jawa Barat, Almadina Rakhmaniar, menegaskan bahwa bullying terhadap anak dengan keunikan tertentu bukan hanya melukai fisik, tetapi juga meninggalkan trauma psikologis yang mendalam.
Menurut Almadina, anak berkebutuhan khusus sudah menghadapi tantangan tersendiri dalam beradaptasi dengan lingkungan. “Tanpa dibuli pun mereka memiliki kesulitan, apalagi jika mengalami speech delay. Cara berkomunikasi saja sudah menjadi tantangan, ditambah perundungan yang menghancurkan rasa percaya diri mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, dampak langsung dari bullying dapat membuat anak merasa terisolasi dari lingkungannya. Kondisi ini berpotensi menimbulkan trauma yang serius. “Ketika anak merasa tidak diterima, ia bisa mengalami gangguan psikologis, bahkan menolak untuk kembali ke sekolah,” jelasnya.
Almadina menyoroti kasus di Bandung di mana korban sampai enggan bersekolah akibat perundungan. Menurutnya, hal ini menunjukkan adanya gejala trauma pasca peristiwa (PTSD) yang berbahaya jika tidak segera ditangani.
Baca juga : Almadina Rakhmaniar Dorong Langkah Nyata Hentikan Bullying Anak
“Dalam jangka panjang, anak bisa mengalami depresi berlebihan atau stres berkepanjangan,” katanya.
Ia menekankan, fenomena bullying terhadap anak berkebutuhan khusus muncul karena masyarakat belum sepenuhnya memahami perbedaan. “Perbedaan yang tidak dipahami seringkali menjadi alasan munculnya stigma dan perundungan. Padahal lingkungan seharusnya memberi perhatian khusus, bukan sebaliknya,” tegas Almadina.
Dari sisi psikologi, ia menjelaskan bahwa dampak jangka pendek biasanya berupa penarikan diri, enggan bersekolah, dan menghindari interaksi sosial. Sementara dampak jangka panjang bisa lebih serius, seperti depresi, trauma berkepanjangan, hingga gangguan kepercayaan diri yang sulit dipulihkan.
Almadina mengingatkan, kasus ini harus menjadi alarm bagi sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk lebih peduli. “Bullying terhadap anak berkebutuhan khusus bukan sekadar masalah individu, tetapi masalah sosial. Lingkungan harus hadir sebagai pelindung, bukan sumber luka,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....