Pengamat Ungkap Penyebab Demo Ricuh di Indonesia
- 31 Agt 2025 12:11 WIB
- Bandung
KBRN,Bandung: Pengamat Kebijakan Publik Universitas Parahyangan, Kristian Widya Wicaksono menilai, demonstrasi yang ricuh di sejumlah daerah merupakan sinyal bahwa masyarakat telah frustasi terhadap kinerja pemerintah. Menurutnya secara teoritis demonstrasi merupakan partisipasi politik non konvensional yang disajikan dalam bentuk penyampaian aspirasi masyarakat kepada suprastruktur politik.
"Penyebabnya adalah tidak efektifnya kanal komunikasi politik yang menjadi saluran artikulasi aspirasi tersebut," ujar Kristian, Minggu (31/8/2025).
Ketidakefektifan ini kata dia, disebabkan oleh dua hal. Pertama, aspirasi tidak didengar dan tidak diakomodir dalam pengambilan kebijakan. Kedua, aspirasi didengar tetapi tidak kunjung diadopsi kedalam kebijakan.
"Hal ini mengakibatkan rasa frustasi masyarakat terhadap penguasa politik," ucapnya.
Rasa frustasi ini lanjut Kristian, sebagai akumulasi dari kekecewaan terhadap kebijakan-kebijakan kontroversial yang terus berjalan tanpa henti, mulai dari revisi UU KPK, UU Cipta Kerja, eksploitasi lingkungan hidup, UU TNI, RUU KUHP, kenaikan pajak lokal, tata kelola Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bermasalah hingga tunjangan perumahan yang diberikan dalam bentuk uang kepada anggota DPR RI.
"Terakhir munculnya korban dalam penanganan demonstrasi massa. Rentetan masalah yang berkepanjangan inilah yang membuat situasi politik menjadi bergejolak. Apalagi pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid belum sepenuhnya dapat mengembalikan gairah ekonomi masyarakat," kata dia.
Dia menyarankan langkah yang dapat dilakukan untuk menghentikan ini, salah satunya dengan membuat kebijakan yang tidak lagi memunggungi atau bertentangan dengan masyarakat.
"Jangan dipaksakan jika memang tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Pernyataan maaf resmi saja sudah tidak cukup. Perlu ada tindakan nyata dari penguasa untuk tidak memaksakan berbagai hal yang sudah jelas-jelas ditolak masyarakat sebagai bentuk akuntabilitas terhadap masyarakat sebagai pembayar pajak dan pemegang kedaulatan politik yang sah secara undang-undang," tandasnya.
Seperti diketahui, pada Jumat dan Sabtu lalu elemen menggelar aksi di depan Kantor DPRD Jabar, Kota Bandung. Demonstran merusak sejumlah fasilitas publik, membakar belasan kendaraan bermotor dan satu unit rumah yang merupakan Wisma MPR.
Selain itu, pada Sabtu kemarin oknum demonstran merangsek masuk ke DPRD Jabar, dengan merusak sejumlah infrastruktur yang ada.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....