Perbedaan Siraman dan Ngeyeuk Seureuh Dalam Pernikahan Sunda

  • 30 Jun 2025 13:47 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Dalam tradisi pernikahan Sunda, terdapat sejumlah ritual adat yang sarat makna dan simbolisme, dua di antaranya adalah siraman dan ngeyeuk seureuh. Meskipun keduanya dilakukan menjelang hari pernikahan, masing-masing memiliki makna dan prosesi yang berbeda.

Siraman merupakan ritual memandikan calon pengantin dengan air yang telah diberi bunga-bungaan sebagai simbol penyucian diri, baik secara fisik maupun spiritual, sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Sementara itu, ngeyeuk seureuh adalah prosesi adat yang lebih menekankan pada nasihat dan restu dari orang tua serta sesepuh kepada calon pengantin.

Ritual ini biasanya dilakukan setelah siraman, dan melibatkan perlengkapan khas seperti daun sirih (seureuh), uang logam, beras, dan perlambang lainnya yang sarat makna filosofis. Dalam prosesi ini, orang tua atau wakil keluarga akan memberikan petuah tentang kehidupan pernikahan, kewajiban sebagai suami istri, serta pentingnya saling menghormati.

Secara fungsi, siraman lebih bersifat simbolik sebagai bentuk pembersihan dan kesiapan lahir batin calon pengantin, sedangkan ngeyeuk seureuh merupakan bagian dari pembekalan mental dan moral. Siraman biasanya bersifat pribadi, melibatkan keluarga inti, sementara ngeyeuk seureuh bisa dilakukan di hadapan kerabat atau tamu, sehingga suasananya cenderung lebih meriah dan bersifat seremoni sosial.

Dengan demikian, keduanya memiliki tempat yang penting dalam rangkaian pernikahan adat Sunda. Siraman menandai kesiapan pribadi pengantin, sedangkan ngeyeuk seureuh menandai kesiapan untuk hidup bersama sebagai pasangan suami istri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....