Kesehatan Reproduksi, YGSI: Modul Berperspektif Islam

  • 23 Apr 2025 20:42 WIB
  •  Bandung

KBRN,Garut : Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) menggelar kegiatan Uji Keterbacaan dan Uji Coba Modul Setara terkait Pendidikan Kesehatan Reproduksi Berperspektif Islam.

Uji coba ini menyasar pengembangan modul pendidikan yang sesuai dengan konteks keagamaan, khususnya Islam, untuk diterapkan di madrasah dan pesantren di Indonesia.

Direktur YGSI, Ely Sawitri, mengungkapkan bahwa Garut dipilih sebagai lokasi uji coba karena tingginya jumlah pesantren dan madrasah di daerah tersebut, serta besarnya populasi remaja. Selain itu, dukungan dari Dinas Pendidikan dan kolaborasi dengan Yayasan Semak turut memperkuat pelaksanaan kegiatan ini.

Ely mengungkapkan, Garut merupakan daerah dengan populasi remaja yang tinggi serta jumlah lembaga pendidikan berbasis agama yang besar. Hal ini menjadi lokasi strategis untuk implementasi modul pendidikan kesehatan reproduksi.

"Dan kami juga berkolaborasi dengan Yayasan Semak yang mereka juga sudah menjangkau dari Kanwil Kementerian Agama, dan sudah berproses juga di sekolah MTs dan madrasah, dan sambutannya sangat baik," tambahnya, di Garut, Rabu (23/4/2025).

Ely menekankan harapan besar YGSI agar implementasi modul ini dapat berjalan sukses di Garut. Ia menambahkan, fokus pengembangan modul ini juga menyasar secara khusus sekolah-sekolah di bawah naungan Kementerian Agama.

Menurutnya, pengembangan modul ini awalnya bertujuan untuk menjawab kebutuhan pendidikan kesehatan secara umum. Namun dalam perjalanannya, YGSI merasa perlu mengadaptasi modul agar sesuai dengan konteks pendidikan Islam di Indonesia.

"Kami mulai melakukan advokasi atau berdiskusi bagaimana supaya modul ini juga diterima di sekolah-sekolah yang berbasis keagamaan khususnya Islam, karena kan sekolah berbasis keagamaan itu kan di Indonesia banyak sekali gitu ya," ungkapnya.

Ely menekankan pentingnya intervensi pada jenjang SMP, mengingat masa pubertas menjadi periode krusial bagi remaja dalam memahami perubahan fisik dan emosional. Ia menekankan bahwa upaya pencegahan kekerasan tidak hanya boleh terfokus pada sekolah dengan kasus bullying yang tinggi, tetapi juga pada sekolah berbasis agama dan pesantren di mana kasus serupa juga terjadi.

"Jadi jangan hanya kita fokus kepada sekolah pendidikan di mana kasus bullying yang memang tinggi, tetapi juga ke sekolah-sekolah berbasis agama dan pesantren yang ternyata kasus bullying juga terjadi disana," tegasnya.

Harapannya, modul ini dapat diluncurkan dan diadopsi secara luas oleh sekolah-sekolah di bawah Kementerian Agama. “Sama seperti yang dilakukan Kementerian Pendidikan, kami ingin Kementerian Agama juga bisa mengadaptasi modul ini di ribuan sekolah yang berada di bawah naungannya,” tutur Ely.

Dalam kesempatan tersebut, Ely juga menjelaskan bahwa uji coba modul akan melibatkan sejumlah MTs dan pesantren di Garut. Program serupa juga dilaksanakan di berbagai daerah seperti Langkat (Sumatera Utara), Indramayu, Cianjur, Jombang, Jember, Bondowoso, Lombok, dan Sulawesi Tengah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....