Tradisi Mapag Panganten: Dulu dan Sekarang

  • 21 Apr 2025 13:04 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: "Mapag Panganten" adalah salah satu tradisi dalam adat pernikahan Sunda yang memiliki makna mendalam. Secara harfiah, “mapag panganten” berarti menjemput pengantin, biasanya dilakukan oleh keluarga mempelai wanita saat menyambut kedatangan mempelai pria di lokasi pernikahan atau rumah keluarga pengantin wanita. Tradisi ini merupakan simbol penghormatan, penerimaan, serta awal dari penyatuan dua keluarga besar.

Di zaman dulu, prosesi "Mapag Panganten" dilakukan dengan penuh nuansa adat. Para keluarga dan kerabat mempelai wanita akan menyambut pengantin pria dengan iring-iringan musik tradisional seperti seperangkat alat musik Gamelan atau Kacapi, Suling, lengkap dengan tarian tradisional dan tidak lupa sesajen.

Pengantin biasanya ditemani Lengser, seorang tokoh adat yang memimpin prosesi dengan candaan namun mengandung filosofi. Suasana berlangsung khidmat dan meriah, mencerminkan kekayaan budaya tradisi. .

Sementara itu, di zaman sekarang tradisi "Mapag Panganten" masih dilakukan, namun sering kali mengalami penyesuaian dengan perkembangan zaman. Banyak pasangan modern yang tetap ingin mempertahankan prosesi ini, namun dengan durasi yang lebih singkat dan tampilan yang lebih sederhana. Musik tradisional kadang digantikan dengan alat musik modern atau rekaman audio, dan prosesi tarian pun lebih ringkas, meski tetap mempertahankan simbol-simbol adat yang penting.

Selain karena perubahan gaya hidup, efisiensi waktu dan anggaran juga menjadi alasan perubahan bentuk "Mapag Panganten". Namun, esensinya tetap dijaga, yaitu menyambut dan menghormati pengantin sebagai awal dari kehidupan baru yang sakral. Di beberapa daerah, unsur budaya dikombinasikan dengan unsur modern untuk menciptakan momen yang tetap berkesan, namun tidak terlalu kaku atau memakan waktu panjang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....