Pesona Tari Sintren Hingga Makna Mendalam untuk Kehidupan
- 12 Mar 2025 14:25 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: Cirebon adalah salah satu daerah yang ada di Jawa Barat yang memiliki banyak daya tarik dari mulai tempat wisata, kuliner dan kebudayaannya. Tidak hanya itu, Cirebon juga memiliki tarian yang sangat unik dan menarik yaitu Sintren.
Beberapa keterangan tentang Sintren dituturkan oleh para senimannya, antara lain dikatakan bahwa Sintren berasal dari kata Sin dan Tetaren. Sin memiliki arti Sindir sedangkan Tetaren memiliki arti pertanyaan melalui syair yang perlu dipikirkan dan dicari jawaban-nya. Tetapi ada juga yang menuturkan bahwa asal usul Sintren berasal dari upacara pemanggilan Ruh, karena ditinjau dari lagu-lagu yang dibawakan dalam pergelaran Sintren yang memiliki sifat magis-religius yaitu dengan adanya adegan kesurupan yang dialami oleh seorang Sintren.
Menurut data dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Sintren adalah salah satu jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat yang banyak terdapat di daerah Pantura atau Pantai Utara, terutama di Wilayah Cirebon, Indramayu, Subang, Kuningan. Mengutip buku Apresiasi Seni: Seni Tari & Seni Musik, keunikan dari tari Sintren terletak pada gerakannya yang seakan diulang-ulang, tepatnya pada gerak duduk geleng kepala, gerak tangan ukelan, dan gerak malangkerik.
Untuk menjadi Sintren tidak bisa sembarangan, tetapi harus memenuhi syarat da ketentuan yang dipercaya oleh seniman-seniman kesenian Sintren tersebut dari para leluhurnya. Penari harus dalam keadaan suci dan bersih, bahkan ia juga harus melakukan puasa sebelum pementasan. Nantinya, si penari akan memainkan gerakan-gerakan tari dalam keadaan kesurupan roh penguasa pantai utara Jawa, Dewi Lanjar Sari.
Penari Sintren biasanya memakai kacamata hitam untuk menutupi mata (posisi biji mata) pada saat kesurupan. Dalam pertunjukan Sintren biasanya digunakan kurungan ayam berbentuk melengkung yang melambangkankehidupan manusia yang seiring dalam hidup kadang berada di atas dan bisa jyga suatu waktu berada dibawah.
Pada saat penari Sintren sudah mulai keluar dari kurungan dan menari, penonton akan melemparkan uang ke tubuh penari Sintren yang akan mengakibatkan sang penari menjadi jatuh dan lemas. Hal tersebut merupakan gambaran bahwa kehidupan manusia tidak harus selalu mendahulukan hal duniawi karena sikap serakah akan membuat manusia jatuh. Lagu-lagu yang dilantunkan umumnya memanggil-manggil bidadari, Ruh yang dipercayai dapat mendatangkan kekuatan tertentu, seperti tercermin dalam Lagu Kembang Terate, Gulung-Gulung Kalasa, Turun Sintren, Simbar Pati, Kilar Blatar, dan lain-lain.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....