Tantangan Produksi Al-Qur’an Braille, Bergantung pada Donasi dan Kebijakan

  • 02 Mar 2026 16:32 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Produksi Al-Qur’an Braille di Yayasan Wyata Guna Bandung menghadapi tantangan serius dalam beberapa tahun terakhir. Keterbatasan pendanaan dan perubahan kebijakan menjadi kendala utama keberlanjutan pencetakan.

Kepala Sekretariat Yayasan Wyata Guna, Ayi Ahmad Hidayat mengatakan, Al-Qur’an Braille hingga kini belum menjadi produk komersial. Seluruh proses produksi masih bergantung pada donatur, baik perorangan maupun lembaga.

“Al-Qur’an Braille ini masih kategori barang sosial. Modalnya tergantung donatur. Kalau mengandalkan pemerintah, kadang kebijakannya berubah-ubah ketika terjadi pergantian pimpinan,” ujar Ayi di yayasan Wyata Guna, Senin 2 Maret 2026.

Ia menambahkan, pihaknya juga bekerja sama dengan komunitas tunanetra untuk menghimpun dana. Kolaborasi dilakukan agar kebutuhan mushaf Braille tetap terpenuhi di berbagai daerah.

Namun, kondisi ekonomi yang belum stabil serta meningkatnya kebutuhan bantuan untuk penanganan bencana membuat perhatian donatur teralihkan. Dampaknya, produksi mengalami penurunan signifikan, bahkan lebih berat dibanding masa pandemi COVID-19.

“Sekarang justru lebih terasa daripada musim Covid. Waktu Covid kami masih berproduksi. Sekarang, menjelang dan saat Ramadan pun terasa sepi,” kata Ayi.

Dalam periode menjelang hingga pertengahan Ramadan tahun ini, produksi hanya mencapai sekitar 100 eksemplar. Bahkan, sebagian Al-Qur’an Braille yang telah dicetak belum memiliki donatur untuk pendistribusian.

Meski demikian, Wyata Guna tetap berupaya menjaga keberlanjutan produksi agar akses ibadah bagi tunanetra tetap terjamin. Ayi berharap ada kebijakan berkelanjutan serta dukungan lebih luas dari masyarakat agar distribusi Al-Qur’an Braille terus berjalan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....