Sejarah Percetakan Al-Quran Braille di Wyata Guna, Dimulai dari Bantuan Mesin 1952
- 02 Mar 2026 14:38 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Percetakan Al-Qur’an Braille di Yayasan Wyata Guna, Kota Bandung, telah menjadi bagian penting dalam sejarah literasi keagamaan bagi penyandang tunanetra di Indonesia. Proses panjangnya bermula dari bantuan mesin cetak Braille pada 1952.
Kepala Sekretariat Yayasan Wyata Guna, Ayi Ahmad Hidayat menjelaskan, Indonesia menerima bantuan mesin Braille Press dari organisasi Helen Keller International. Sebelum menghuni Bandung, mesin tersebut sempat dikelola Badan Grafika di Jakarta di bawah Departemen Penerangan.
“Dulu tahun 1952 Indonesia mendapat bantuan mesin Braille Press dari Helen Keller International. Sempat dikelola di Jakarta, lalu akhirnya dikirim ke Bandung karena sejarah pendidikan tunanetra memang berawal dari sini,” ujar Ayi saat ditemui di Wyata Guna Bandung, Senin 2 Maret 2026.
Ayo merujuk pada berdirinya Blinden Institute di Bandung yang menjadi cikal bakal pengembangan pendidikan tunanetra di Indonesia. Sejak 1962, percetakan di Wyata Guna awalnya hanya memenuhi kebutuhan internal siswa, Namun karena peserta didik datang dari berbagai daerah, produksi buku Braille pun diperluas untuk sekolah luar biasa (SLB-A) di seluruh Indonesia.
Produksi Al-Qur’an Braille sendiri mulai dirintis pada 1975–1976, bertepatan dengan peringatan 75 tahun berdirinya lembaga tersebut. Saat itu digelar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional Tunanetra.
Dari kegiatan itu muncul kebutuhan akan mushaf Braille yang seragam. Menurut Ayi, sejumlah pemerhati menginventarisasi huruf Arab Braille dan menyusun naskah awal. Penyusunan naskah berlangsung sekitar dua tahun hingga 1978, sebelum diajukan ke Kementerian Agama untuk ditashih.
“Prosesnya panjang. Dari 1978 sampai 1984 dilakukan musyawarah kerja untuk penyeragaman. Tahun 1984 keluar SK standar naskah Al-Qur’an, termasuk Braille,” katanya.
Pada tahun 2013 disusun pedoman standar penulisan dan pencetakan Al-Qur’an Braille. Kini, model yang digunakan telah seragam secara nasional dengan rasm Usmani.
Ayi menyebutkan, hingga kini sekitar 20 ribu eksemplar Al-Qur’an Braille telah didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia. Tak hanya dalam negeri, bahkan beberapa eksemplar ada yang dikirim hingga ke luar negeri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....