Pesantren Ekologi SMA Kartika XIX-1 Bangun Generasi Perduli

  • 28 Feb 2026 11:57 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - SMA Kartika XIX-1 menghadirkan inovasi pendidikan karakter melalui program Pesantren Ekologi 2026, pada Ramadan 1447 H yang memadukan penguatan nilai keagamaan dengan aksi nyata pelestarian lingkungan di lingkungan sekolah.

Kepala Sekolah SMA Kartika XIX-1 Drs. Siti Zuraida melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Sofyan Mulyana, mengatakan program ini dirancang untuk membangun kesadaran ekologis (panca niti) siswa sekaligus membentuk karakter peduli lingkungan berbasis nilai spiritual (pancawaluya). Kegiatannya dilaksanakan tiga siklus yaitu; 24-27 Februari bertema Kebersihan Lingkungan, 2-6 Maret bertema Hemat Energi secara online dan 9-13 Maret 2026.

“Pesantren Ekologi bukan hanya kegiatan keagamaan seperti biasanya, tetapi kami integrasikan dengan edukasi dan praktik langsung menjaga lingkungan. Siswa tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga melakukan aksi nyata,” ujar Sofyan, Jumat 27 Februari 2026.

Dalam pelaksanaannya, sebanyak 611 siswa kelas X dan XI mengikuti rangkaian kegiatan seperti kajian tematik lingkungan dalam perspektif agama, menjaga kebersihan, penanaman pohon, hingga melakukan inservasi persoalan lingkungan yang harus dicarikan solusi. Menurut Sofyan, pendekatan ini penting agar siswa memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keimanan.

“Kami ingin menanamkan bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah. Ketika siswa memahami nilai itu, maka perilaku ramah lingkungan akan tumbuh secara alami. Sebelum itu dilakukan, pagi hari selalu diawali sholat Dhuha dan tadarus berjamaah, mushaf Alquran, Poe Ibu (infak), hingga memberikan tajil ke masyarakat,” katanya.

Selain itu, Kartika XIX-1 diakhir kegiatan sudah bekerjasama dengan Rumah Yatim, Remaja Anti Pergaulan Bebas dan Rumah Pemuda Madani. “Mereka sukarela memberikan materi anti pergaulan bebas, penciptaan langit dan bumi, berbakti kepada orang tua dan guru dan materi perbuatan tercela, kepada siswa kelas X dan XI,” imbuhnya.

Semua siklus kegiatan tersebut dilaporkan kepada Pengawas dari Dinas Pendidikan Jabar, sebagai bentuk tanggung jawab sekolah dalam melaksanakan Program Pesantren Ekologi yang digagas Gubernur Dedi Mulyadi (KDM). “Insya Allah tanggal 13 Maret kita laksanakan Takblig Akbar sebagai kegiatan penutup Pesantren Ekologi Ramadan 2026,” bebernya.

Sofyan berharap Pesantren Ekologi 2026 dapat menjadi program berkelanjutan dan menjadi identitas sekolah dalam membangun generasi yang religius sekaligus peduli terhadap isu lingkungan. “Saya menilai program ini sangat relevan dengan kondisi saat ini, karena dengan keperdulian lingkungan siswa menjadi hal besar jika konsisten dilakukan, dan ini salahasatu wujud ketakwaan kepada sang Pencipta alam semesta,” jelas Sofyan.

“Kami ingin lulusan sekolah ini, tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan lingkungan yang kuat. Ini bagian dari komitmen kami yang dicanangkan Pemerintah dalam membentuk generasi masa depan yang bertanggung jawab,” katanya.

Sementara itu, Nazkila Arjelita selaku Ketua Osis SMA Kartika XIX-1 menambahkan, kegiatan pesantren Ramadan di sekolah ini sangat berbeda, karena dalam Pesantren Ekologi yang dilakukan tidak hanya penguatan ibadah tetapi kecintaan dan pelestarian lingkungan juga menjadi fokus dan sangat menarik siswa untuk dikerjakan.

“Konsep Pancaniti ini ada niti harti, niti surti, niti bukti, niti bakti dan niti sajati. Semua itu sangat menarik bagi kami karena dilakukan dengan melibatkan alam dan lingkungan, dan jika fokus dalam melaksanakannya kita jadi mengetahui, sejatinya menjaga alam itu sebagian dari Iman,” kata Nazkila.

Senada dengan Nazkila, Kaela N Suherman kelas XI mengamini banyak manfaat yang dirasakan pada pesantren ekologi ini, tidak hanya belajar menjaga lingkungan tetapi juga mengetahui bahwa semua masyarakat harus terlibat dalam hal ini. “ Maka sebelum kita menyebarluaskan menjaga ekologi, kita sendiri dulu yang harus melaksanakan disekolah dan di sekitar rumah. Karakter ini yang saya rasakan menjadi pembiasaan, seperti menanam tanaman, kebersihan kelas yang asri, lingkungan sekolah yang hijau hingga menghargai energy untuk selalu dihemat,” kata Kaela.

Mereka sepakat program yang digagas KDM ini agar menjadi pembelajaran berkelanjutan, untuk dikuatkan di sekolah. Pasalnya, banyak manfaat yang terkandung untuk diimplementasikan dilingkungan sekolah bahkan di lingkungan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....