Benarkah Puasa Itu Bikin Sehat?
- 27 Feb 2026 22:27 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung: Benarkah puasa itu bikin sehat?, hal tersebut dibahas dalam program Mutiara Pagi RRI Bandung. Puasa bukan hanya ibadah yang bernilai pahala, tetapi juga memiliki dampak positif bagi kesehatan jasmani dan rohani. Secara medis, puasa memberi waktu istirahat bagi organ pencernaan, membantu proses detoksifikasi, serta meningkatkan metabolisme tubuh.
Menurut K.H Asep Anom yang menjadi narasumber dalam program Mutiara Pagi RRI Bandung, dalam sejumlah penelitian menunjukkan bahwa puasa yang dilakukan secara teratur dapat membantu menurunkan berat badan, terutama bagi penderita obesitas. Pembatasan asupan kalori dalam rentang waktu tertentu mendorong pembakaran lemak lebih optimal sehingga berat badan lebih terkontrol.
Puasa juga disebut berkontribusi dalam menjaga kesehatan jantung. Pola makan yang lebih teratur selama Ramadan dapat menekan risiko kolesterol tinggi dan hipertensi. Selain itu, sensitivitas insulin yang lebih baik selama berpuasa turut membantu menurunkan risiko diabetes.
Dari sisi kesehatan sel, pembatasan asupan nutrisi dalam durasi tertentu diyakini dapat memperlambat laju pembelahan sel yang tidak normal. Hal ini kerap dikaitkan dengan upaya pencegahan berbagai penyakit degeneratif.
Tak hanya fisik, puasa berdampak pada kesehatan mental. Pengendalian diri selama berpuasa membantu menekan hormon stres sekaligus meningkatkan hormon endorfin yang memicu rasa bahagia. Kondisi ini sejalan dengan ajaran Islam yang menyebutkan bahwa orang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yakni saat berbuka dan saat berjumpa dengan Allah.
Namun demikian, manfaat kesehatan tersebut sangat bergantung pada cara menjalankan puasa. Pola sahur dan berbuka yang sesuai sunah menjadi kunci agar puasa benar-benar berdampak positif. Sahur dianjurkan meski hanya dengan sedikit makanan atau minuman, karena mengandung keberkahan sekaligus menjaga stamina tubuh sepanjang hari.
Saat berbuka, dianjurkan untuk menyegerakan berbuka ketika waktu Magrib tiba. Pola yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW adalah berbuka dengan kurma dalam jumlah ganjil atau beberapa teguk air, kemudian melaksanakan salat Magrib sebelum mengonsumsi makanan berat.
Pendekatan bertahap tersebut dinilai lebih sehat dibanding langsung mengonsumsi makanan dalam jumlah besar setelah seharian berpuasa. Pola makan berlebihan saat berbuka dapat memicu lonjakan gula darah secara drastis yang berdampak kurang baik bagi tubuh.
Selain itu, puasa juga memiliki dimensi spiritual yang bertingkat. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga, puasa idealnya diiringi dengan menjaga lisan, pandangan, serta seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang dilarang. Tingkatan lebih tinggi adalah menjaga hati agar senantiasa ingat kepada Allah.
Dalam interaksi bersama pendengar, juga ditegaskan bahwa Islam memberikan keringanan bagi orang sakit atau lanjut usia. Mereka yang tidak mampu berpuasa diperbolehkan mengganti di hari lain atau membayar fidyah sesuai ketentuan syariat. Prinsip kemudahan dalam ajaran Islam menegaskan bahwa puasa tidak dimaksudkan untuk memberatkan, melainkan membawa kebaikan.
Melalui kajian tersebut, pendengar diingatkan bahwa puasa dapat menjadi sarana meraih kesehatan sekaligus ketakwaan, asalkan dijalankan sesuai tuntunan. Dengan pola yang benar, puasa bukan sekadar memindahkan waktu makan, tetapi menjadi momentum memperbaiki gaya hidup secara menyeluruh, baik fisik maupun spiritual.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....