Ida Rohayani: Pesantren Ekologi Integrasikan Keimanan dan Lingkungan
- 24 Feb 2026 20:07 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Pesantren Ekologi yang digagas oleh Gubernur Dedi Mulyadi (KDM) pada bulan Ramadan 1447 H, merupakan sebuah inisiatif pendidikan yang menggabungkan nilai-nilai keagamaan Islam, dengan kesadaran dan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Program ini bukan sekadar kegiatan ibadah biasa, tetapi dirancang sebagai bentuk pembelajaran aktif yang menanamkan pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari manifestasi iman kepada Allah SWT.
Pengajar PPKn SMAN 3 Bandung sekaligus Ketua FK MGMP PPKn Jawa Barat, Dr. Ida Rohayani, M.Pd., menilai Program Pesantren Ekologi bagi pelajar di Jawa Barat yang digagas Gubernur KDM sebagai langkah strategis dan relevan dengan nilai-nilai keislaman serta kebangsaan.
Menurut Ida, konsep pesantren ekologi tersebut sangat saluyu dan nyurup dengan ajaran Islam karena mengajarkan peserta didik untuk mencintai Allah SWT melalui kecintaan terhadap alam semesta. Nilai tersebut, kata dia, sejalan dengan pengamalan Pancasila dari sila pertama hingga kelima.
“Pelajar diajak memahami bahwa mencintai Allah SWT dapat diwujudkan dengan mencintai ciptaan-Nya. Nilai-nilai dalam Pancasila menjiwai kecintaan kepada Sang Pencipta, sesama manusia, tanah air, alam lingkungan, hingga kesetiakawanan sosial,” ujar Ida Selasa 24 Februari 2026.
Ia menegaskan, nilai-nilai ekologi yang ditanamkan melalui program tersebut tergolong realistis dan aplikatif untuk diterapkan di lingkungan sekolah, khususnya pada momentum bulan Ramadhan.
“Konsep yang diajarkan adalah siswa harus mencintai alam semesta sebagaimana mencintai Allah SWT. Menurut saya, pesantren ekologi ini keren dan tepat diterapkan di sekolah pada bulan Ramadhan,” katanya.
Lebih lanjut, Ida menjelaskan bahwa program tersebut juga mendorong integrasi antara nilai spiritual keislaman melalui pendekatan qauniyah—yakni memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT melalui alam semesta.
“KDM mengingatkan kita bahwa bertakwa kepada Allah SWT tidak hanya dengan berzikir dan bersembahyang, tetapi juga dengan memperbaiki, menjaga, dan melestarikan alam. Itu adalah nilai keimanan yang tinggi, karena kecintaan kepada Allah diinvestasikan melalui kecintaan terhadap ciptaan-Nya,” tuturnya.
Ia menilai pendekatan tersebut lebih aplikatif karena langsung dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
Sebagai pengajar, Ida juga mendorong agar metode yang digunakan dalam pesantren ekologi mengedepankan pendekatan service learning. Metode ini, jelasnya, memberi ruang bagi siswa untuk belajar melalui praktik nyata, seperti melayani alam, membantu sesama, dan menjaga lingkungan sekitar.
“Dengan metode service learning, siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengalami dan mempraktikkan langsung nilai kepedulian terhadap alam dan sosial. Ini menjadi bentuk pendidikan karakter yang utuh,” kata Ida mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....