Bagaimana Cara Mendapatkan Shaum Berkualitas di Bulan Ramadhan

  • 20 Feb 2026 07:49 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Program Mutiara Pagi yang disiarkan melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 1 Bandung kembali menghadirkan tausiyah penuh makna tentang bagaimana menjadikan shaum tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi benar-benar berkualitas dan bernilai ibadah yang tinggi.

Dalam kesempatan tersebut, narasumber Dendi Abdul Aziz, S.Ag., M.SI, mengupas makna dan strategi agar shaum mampu membentuk pribadi yang bertakwa. Shaum Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga, Dalam pemaparannya, Ustadz Dendi menegaskan bahwa inti shaum adalah membentuk ketakwaan, sebagaimana tujuan yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Artinya, keberhasilan shaum tidak hanya diukur dari kuatnya seseorang menahan lapar, tetapi sejauh mana ia mampu menjaga hati, lisan, pikiran, dan perbuatannya.

Shaum yang berkualitas adalah shaum yang:

Menjaga lisan dari berkata dusta, ghibah, dan ucapan menyakitkan, Menahan diri dari amarah dan perilaku negatif.

Menguatkan kepekaan sosial terhadap sesama.

Meluruskan Niat

Hal pertama yang ditekankan adalah niat. Shaum harus diniatkan semata-mata karena Allah SWT. Ketika niat lurus, maka setiap rasa lelah dan lapar berubah menjadi ladang pahala. Tanpa niat yang benar, ibadah bisa kehilangan nilai spiritualnya.

Mengisi Shaum dengan Amal Shalih

Agar shaum berkualitas, waktu yang dijalani tidak boleh kosong dari kebaikan. Ustadz Dendi mengajak pendengar untuk: Memperbanyak tilawah Al-Qur’an. Meningkatkan sedekah. Menjaga shalat tepat waktu dan berjamaah.

Memperbanyak dzikir dan doa. Shaum sejatinya adalah momentum memperbaiki kualitas hubungan vertikal kepada Allah (hablumminallah) dan hubungan horizontal kepada sesama manusia (hablumminannas).

Mengendalikan Hawa Nafsu

Menurut beliau, tantangan terbesar dalam shaum adalah pengendalian hawa nafsu. Jika seseorang hanya menahan lapar tetapi tetap melampiaskan emosi dan syahwatnya, maka nilai shaumnya menjadi berkurang. Oleh karena itu, pengendalian diri menjadi indikator utama kualitas shaum.

Evaluasi Diri (Muhasabah)

Shaum yang berkualitas juga ditandai dengan adanya perubahan setelahnya. Apakah seseorang menjadi lebih sabar? Lebih jujur? Lebih disiplin? Jika iya, maka shaum tersebut berhasil membentuk karakter.

Ustadz Dendi menutup kajiannya dengan mengajak pendengar untuk menjadikan shaum sebagai sarana transformasi diri, bukan sekadar ritual tahunan.

Melalui program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Bandung, pesan ini menjadi pengingat bahwa shaum bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga ibadah hati dan akhlak. Semoga setiap shaum yang kita jalankan benar-benar berkualitas dan membawa kita pada derajat takwa.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....