Sirnas C Bandung Jadi Magnet Atlet Bulutangkis Nasional 2026
- 15 Agt 2026 19:20 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Sekretaris PBSI Kota Bandung, Ir. Masum Husain, menilai penyelenggaraan Sirkuit Nasional (Sirnas) C Wali Kota Bandung Utama Open 2026 mendapat sambutan luar biasa dari para atlet dan klub bulutangkis di berbagai daerah.
Menurut Masum, tingginya antusiasme peserta merupakan hasil dari proses panjang yang sebelumnya telah dilalui Bandung. Ia menyebut, ajang tersebut tidak serta-merta langsung berstatus Sirnas C, melainkan berawal dari Bandung Open yang berskala multi provinsi.
"Sejarahnya, pelaksanaan ini sebelumnya tidak langsung Sirnas C. Tiga tahun berturut-turut kami melaksanakan Bandung Open dengan skala multi provinsi, sehingga belum berstatus nasional," ujar Masum.Di Gor Bandung,Jalan Jakarta, Sabtu 15 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, peningkatan status kejuaraan harus melalui sejumlah tahapan evaluasi dari tingkat pusat. Apabila penyelenggaraan dinilai berhasil secara konsisten, barulah panitia dan pengurus daerah dapat mengusulkan peningkatan status menjadi Sirnas.
"Biasanya di pusat ada evaluasi. Kalau pelaksanaannya berhasil, baik, dan baik lagi, kemudian bisa diusulkan menjadi Sirnas C," katanya.
Masum menuturkan, usulan menjadikan Bandung Open sebagai Sirnas C telah diperjuangkan sejak Mukernas PBSI di Malang pada 2025. Usulan tersebut mendapat dasar kuat karena tiga penyelenggaraan sebelumnya dinilai mampu berjalan dengan baik.
"Pengusulan Sirnas C ini sebenarnya dilakukan pada 2025 saat Mukernas di Malang. Kami perjuangkan karena tiga kejuaraan sebelumnya berhasil dilaksanakan dengan baik," ucapnya.
Status sebagai kejuaraan nasional membuat animo peserta meningkat tajam. Bahkan, menurut Masum, pendaftaran yang baru dibuka selama dua hari langsung dipenuhi peserta.
"Biasanya kalau kejuaraan multiprovinsi, pendaftarannya bisa dibuka satu sampai dua minggu. Tahun lalu kami memiliki sekitar 800 peserta. Kalau tidak dibatasi, Sirnas C ini bisa menembus 2.000 peserta," katanya.
Pembatasan peserta dilakukan karena mempertimbangkan kapasitas fasilitas pertandingan serta anggaran yang tersedia. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, jumlah peserta akhirnya ditetapkan sekitar 1.200 atlet.
Masum berharap Sirnas C Wali Kota Bandung Utama Open dapat menjadi agenda tahunan. Namun, keputusan mengenai status penyelenggaraan berikutnya tetap berada di tangan PBSI pusat setelah melalui proses monitoring dan evaluasi.
"Kalau pelaksanaannya berhasil, PBSI Kota Bandung tentu akan mengusulkan kembali. Biasanya batas waktu pengusulan untuk agenda 2027 adalah 31 Oktober 2026. Tetapi keputusan tetap berada di pusat," ujarnya.
Ia optimistis Bandung memiliki peluang besar kembali menjadi tuan rumah Sirnas C. Hal itu terlihat dari penyelenggaraan sejak hari pertama yang berjalan relatif lancar tanpa persoalan berarti.
"Dari pelaksanaan hari pertama sampai sekarang hampir tidak ada masalah. Insyaallah kami optimistis Sirnas C bisa kembali dilaksanakan di Bandung," tutur Masum.
Masum juga menyoroti kualitas peserta yang mengikuti kejuaraan. Menurut dia, mayoritas atlet yang tampil merupakan pemain terbaik dari klub masing-masing sehingga persaingan berlangsung ketat.
"Pesertanya berkualitas. Klub-klub mengirimkan atlet terbaiknya. Biasanya ada dua hal yang dikejar atlet, yaitu poin dan hadiah," katanya.
Ia menjelaskan, status Sirnas C memberikan nilai poin yang cukup besar bagi atlet dalam persaingan nasional. Selain poin, besarnya hadiah juga menjadi salah satu faktor yang mendorong klub mengirimkan pemain terbaiknya.
"Total hadiah yang disiapkan sekitar Rp341 juta. Nilainya bahkan lebih besar dibandingkan Sirnas C yang akan dilaksanakan di Yogyakarta, yang hadiahnya sekitar Rp280 juta," ujarnya.
Ketua Panitia Sirnas C Wali Kota Bandung Utama Open 2026, Deris Maulana, membenarkan tingginya antusiasme peserta. Ia mengatakan peserta tidak hanya berasal dari Kota Bandung dan Jawa Barat, tetapi juga datang dari berbagai wilayah di Indonesia.
"Antusiasme peserta dari Kota Bandung, Jawa Barat, maupun luar Jawa Barat sangat tinggi. Ini merupakan Sirnas pertama di Bandung dan Bandung memang memiliki pasar tersendiri," kata Deris.
Deris menilai posisi Bandung sebagai kota wisata turut menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta. Selain bertanding, atlet dan ofisial dapat memanfaatkan waktu untuk menikmati berbagai destinasi wisata di Kota Bandung.
"Setelah pertandingan, mereka bisa sekaligus berlibur dan menikmati keindahan Kota Bandung. Jadi, ada nilai tambah selain mengikuti pertandingan," ujarnya.
Dari sisi persaingan, Deris menyebut seluruh kategori berlangsung ketat karena tidak ada satu klub yang benar-benar mendominasi. Sejumlah klub besar dan pusdiklat nasional mengirimkan atlet terbaik sehingga persaingan antarpemain semakin kompetitif.
"Persaingan di setiap kategori sangat ketat. Tidak ada satu klub yang bisa mendominasi, termasuk klub-klub pusdiklat dan klub besar dari seluruh Indonesia," katanya.
Sebagai tuan rumah, Bandung juga menempatkan sejumlah klub unggulan. PB Mutiara Cardinal Bandung dan PB TAQI Arena Badminton Academy menjadi dua klub yang dinilai mampu memberikan perlawanan kuat sekaligus membawa nama Jawa Barat di ajang nasional tersebut.
"Alhamdulillah, tuan rumah bisa menempatkan beberapa tim unggulan, khususnya PB Mutiara Cardinal Bandung dan PB TAQI Arena Badminton Academy. Mereka cukup mendominasi di beberapa nomor," tutur Deris.
Total hadiah Rp341 juta diperebutkan melalui 21 kategori pertandingan. Rinciannya terdiri atas 10 kategori nomor tunggal dan 11 kategori nomor ganda.
"Total prize money yang kami siapkan sebesar Rp341 juta untuk 21 kategori. Kalau melihat beberapa penyelenggaraan Sirnas C, nilai hadiah ini termasuk salah satu yang tertinggi," katanya.
Deris juga membuka peluang Bandung kembali menjadi tuan rumah Sirnas C pada tahun mendatang. Ia menyebut pihaknya telah melakukan komunikasi dengan jajaran pengurus PBSI mengenai keberlanjutan penyelenggaraan tersebut.
"Insyaallah Sirnas C mendatang tetap kami pertahankan di Bandung dengan status seperti sekarang. Namun, tentu ada beberapa catatan dan evaluasi yang harus diperhatikan," ujarnya.

Salah satu evaluasi utama berkaitan dengan kapasitas peserta. Tingginya jumlah pendaftar membuat panitia harus menerapkan sistem kuota. Untuk penyelenggaraan berikutnya, panitia berencana menambah lokasi pertandingan agar jumlah peserta dapat ditingkatkan.
"Untuk tahun depan, peserta rencananya akan kami tambah dan tidak lagi menggunakan kuota. Kami juga merencanakan tambahan dua GOR, yaitu GOR Pajajaran dan GOR Tri Lomba Juang, selain GOR Utama Kota Bandung dan GOR Lodaya," kata Deris.
Dengan perubahan regulasi sistem poin menjadi 15x3, Deris memperkirakan jumlah peserta pada penyelenggaraan berikutnya akan meningkat signifikan. Bahkan, panitia menargetkan lebih dari 2.500 peserta.
"Kami yakin jumlahnya akan jauh lebih banyak. Target kami lebih dari 2.500 peserta dan ada potensi memecahkan rekor sebagai Sirnas dengan jumlah peserta terbanyak di Indonesia," katanya.
Selain menjadi ajang kompetisi, Sirnas C Wali Kota Bandung Utama Open 2026 juga dimanfaatkan sebagai ruang pemantauan atlet potensial Jawa Barat. Deris yang juga menjalankan tugas pembinaan prestasi PBSI Jawa Barat mengatakan tim pemandu bakat diterjunkan sejak awal hingga akhir pertandingan.
"Kami sudah menyiapkan tim pemandu bakat dari hari pertama sampai hari terakhir. Atlet dipantau mulai usia dini hingga taruna, terutama taruna awal dan taruna akhir," ujarnya.
Pemantauan tersebut dinilai penting untuk menyiapkan regenerasi atlet Jawa Barat. Atlet yang berada pada kelompok usia taruna menjadi perhatian khusus karena masa pembinaannya relatif terbatas sebelum memasuki kelompok usia berikutnya.
"Atlet taruna awal dan taruna akhir kami maksimalkan karena masa pembinaannya tinggal sekitar satu sampai satu setengah tahun. Ini menjadi bagian penting dalam persiapan pembinaan ke depan," tutur Deris.

Hasil pemantauan menunjukkan sejumlah atlet binaan Jawa Barat mampu tampil kompetitif. PB Mutiara Cardinal Bandung disebut meloloskan 13 wakil ke babak final, sementara TAQI Arena Badminton Academy juga mengirimkan sejumlah wakil terbaiknya.
"PB Mutiara Cardinal Bandung meloloskan 13 peserta ke final, Taki Arena juga demikian. Sementara Jaya Raya meloloskan sembilan peserta ke final," katanya.
Deris berharap dominasi klub-klub asal Jawa Barat dapat berlanjut hingga pertandingan final. Ia bahkan berharap gelar juara umum bisa diraih klub yang berada di bawah pembinaan PBSI Jawa Barat, khususnya klub dari Kota Bandung.
"Kami berharap juara umum bisa berasal dari klub di bawah naungan PBSI Jawa Barat, khususnya Kota Bandung," ujarnya.
Terkait dominasi PB Mutiara Cardinal Bandung, Deris mengatakan kondisi tersebut tidak terlepas dari kekuatan sistem pembinaan dan dukungan finansial klub. Di tengah keterbatasan anggaran akibat berbagai kebijakan efisiensi, klub tersebut masih mampu mempertahankan program pembinaan atlet.
"Saat ini kami masih bertumpu kepada PB Mutiara Cardinal Bandung. Mereka memiliki kekuatan finansial yang cukup baik dan kontribusinya besar terhadap pembinaan atlet untuk Kota Bandung, Jawa Barat, hingga tingkat nasional," katanya.
Ia berharap keberhasilan Mutiara Cardinal dapat menjadi inspirasi bagi klub-klub lain di Bandung. Deris juga optimistis SGS PLN Bandung dapat kembali menunjukkan kiprahnya dalam pembinaan dan melahirkan atlet-atlet berprestasi.
"Kami berharap klub-klub lainnya bisa meniru pola pembinaan Mutiara Cardinal. Insyaallah ke depan SGS PLN Bandung juga akan bangkit dan kembali menyambut masa kejayaannya," ucap Deris.
Dalam pembinaan prestasi, PBSI Jawa Barat juga tengah menyiapkan program pembentukan tim pelatihan daerah atau platrop. Program tersebut dilakukan melalui proses identifikasi atlet berdasarkan hasil kejuaraan, kemampuan teknis, perkembangan bakat, serta peringkat poin.
"Kami mengumpulkan dan mengidentifikasi atlet untuk pembentukan platrop. Kami melihat hasil kejuaraan, talent, perkembangan potensi, peringkat poin, dan kemampuan teknis mereka di lapangan," ujar Deris.
Menurutnya, potensi atlet Jawa Barat yang masuk radar pembinaan cukup banyak. Namun, mengenai waktu pasti pembentukan kembali platrop, pihaknya masih menunggu momentum yang tepat setelah rangkaian agenda olahraga daerah selesai.
"Pembentukan platrop menjadi salah satu program prioritas Pengprov PBSI Jawa Barat. Konsepnya sudah dibuat dan tinggal kami paparkan kepada Ketua Umum. Idealnya setelah Porprov, program ini kembali kami gagas," katanya.
Sementara itu, Deris mengungkapkan besarnya antusiasme peserta terlihat sejak pembukaan pendaftaran. Panitia membuka pendaftaran dalam tiga termin dan jumlah peserta yang masuk terus meningkat pada setiap tahap.
"Pada termin pertama, baru 2,5 jam pendaftaran dibuka, sudah ada 875 pendaftar. Termin kedua mencapai 1.125, sedangkan termin terakhir mencapai 1.405 entries," katanya.
Setelah dilakukan verifikasi dan proses keabsahan oleh tim pusat, jumlah peserta yang dinyatakan sah akhirnya mencapai 1.249 atlet dari 209 klub di seluruh Indonesia. Angka tersebut menunjukkan tingginya daya tarik Sirnas C Wali Kota Bandung Utama Open 2026.
"Setelah diverifikasi dan disahkan oleh tim Keabsahan Pusat, totalnya menjadi 1.249 peserta dari 209 klub seluruh Indonesia. Klub dengan pendaftar terbanyak adalah Taki Arena Badminton Academy dengan 109 peserta, sedangkan dari Kota Bandung terdapat sekitar 230 peserta," tutur Deris.
Dengan tingginya partisipasi tersebut, Sirnas C Wali Kota Bandung Utama Open 2026 tidak hanya menjadi panggung persaingan atlet nasional, tetapi juga menjadi momentum bagi Bandung dan Jawa Barat untuk memperkuat sistem pembinaan bulutangkis.
Penyelenggaraan ini sekaligus menjadi tolok ukur bagi PBSI Kota Bandung dalam mempertahankan kepercayaan sebagai tuan rumah. Evaluasi dari PBSI pusat akan menjadi penentu apakah Bandung kembali mendapatkan kesempatan menggelar ajang serupa pada tahun berikutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....