Kejuaraan Taekwondo West Java Jadi Ajang Uji Atlet Porprov
- 14 Agt 2026 18:54 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Kejuaraan Taekwondo “West Java” Tahun 2026 resmi digelar di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jalan Setiabudi, Kota Bandung. Kejuaraan tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai 14 hingga 16 Agustus 2026, dan diikuti sekitar 2.500 peserta.
Ajang ini menjadi salah satu momentum penting bagi pembinaan atlet taekwondo di Jawa Barat. Selain menjadi arena kompetisi, kejuaraan tersebut dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengukur kemampuan atlet yang dipersiapkan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat 2026.
Ketua Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) Taekwondo Indonesia (TI) Jawa Barat, Divie, SH., mengatakan, Jawa Barat terus berupaya menggali potensi atlet untuk dipersiapkan tidak hanya bagi kepentingan daerah, tetapi juga untuk memberikan kontribusi terhadap prestasi olahraga nasional.
“Jawa Barat itu terus menggali potensi atlet yang kira-kira bisa disumbangkan untuk kepentingan nasional. Karena itu, kejuaraan seperti ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh Pengcab kota dan kabupaten,” ujar Divie.Jumat 14 Agustus 2026.

Menurutnya, kejuaraan tersebut menjadi kesempatan bagi Pengurus Cabang (Pengcab) TI kabupaten dan kota untuk mengevaluasi kualitas atlet masing-masing. Evaluasi itu dinilai penting agar atlet yang akan tampil pada Porprov memiliki daya saing tinggi dan mampu bersaing dalam perebutan medali emas.
“Terutama atlet yang akan tampil di Porprov, ini menjadi momentum untuk mengevaluasi potensi mereka. Harapannya, saat Porprov nanti mereka benar-benar memiliki kualitas dan daya saing untuk merebut medali emas,” katanya.
Divie menegaskan, kejuaraan West Java 2026 juga berkaitan erat dengan persiapan menghadapi Porprov. Ia berharap Pengcab dapat memanfaatkan kompetisi tersebut secara maksimal, terutama dalam melihat kesiapan atlet menghadapi persaingan yang semakin ketat.
“Kalau untuk taekwondo, saya berharap persiapannya aman. Memang kita mendengar adanya efisiensi anggaran di daerah, tetapi bagaimana kita mencari solusi agar pembinaan atlet tetap berjalan,” ujarnya.
Ia mengakui kondisi anggaran olahraga di sejumlah daerah saat ini menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Karena itu, Pengprov TI Jawa Barat berupaya membuka ruang kompetisi sekaligus pembinaan agar atlet tetap mendapatkan pengalaman bertanding.
Kejuaraan West Java 2026 menjadi penyelenggaraan perdana dan mendapat respons di luar perkiraan. Dari target awal sekitar 2.400 hingga 2.600 peserta, jumlah pendaftar mencapai sekitar 2.500 atlet.
“Ini pertama kali digelar. Kami bersyukur karena ternyata antusiasmenya sangat luar biasa. Jumlah peserta sekitar 2.500 orang, sesuai dengan prediksi awal yang berada di kisaran 2.400 sampai 2.600 peserta,” kata Divie.

Menariknya, komposisi peserta justru didominasi atlet kategori prestasi. Sekitar 80 persen peserta merupakan atlet prestasi, sedangkan 20 persen lainnya berasal dari kategori pemula.
“Persentasenya sekitar 80 banding 20. Jadi, 80 persen peserta merupakan atlet prestasi dan 20 persen pemula. Ini tentu menjadi sesuatu yang positif karena tujuan utama kita memang menghadirkan kejuaraan berorientasi prestasi,” tuturnya.
Dalam kejuaraan tersebut, peserta bertanding pada dua nomor utama, yakni Poomsae dan Kyorugi. Dominasi atlet prestasi membuat penyelenggara harus memastikan kesiapan sarana pertandingan, termasuk perangkat pendukung agar kompetisi dapat berlangsung secara optimal.
Selain diikuti atlet dari berbagai daerah di Jawa Barat, kejuaraan ini juga menarik peserta dari luar provinsi. Sejumlah kontingen berasal dari DKI Jakarta, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Tengah.
Divie menambahkan, pada awalnya kejuaraan West Java 2026 dirancang sebagai event berskala nasional. Namun, rencana tersebut kemudian disesuaikan karena jadwalnya berdekatan dengan sejumlah kejuaraan lain, termasuk Satria Nusantara dan G2.
“Kami sebenarnya ingin menjadikannya kejuaraan nasional. Tetapi kemarin waktunya berbenturan dengan beberapa event seperti Satria Nusantara dan G2. Meski begitu, kami tetap bersyukur karena kejuaraan ini bisa berjalan dan menjadi wadah pembinaan atlet prestasi,” katanya.
Ia berharap seluruh Pengcab TI kabupaten dan kota di Jawa Barat memanfaatkan kejuaraan tersebut sebagai ajang pemanasan sebelum Porprov. Terlebih, nomor junior diperkirakan akan menjadi salah satu bagian penting dalam persaingan pada Porprov mendatang.
“Kami memberikan tempat kepada kota dan kabupaten di Jawa Barat untuk menurunkan atlet terbaiknya, terutama sektor junior. Porprov sekarang banyak mempertandingkan atlet junior, sehingga mereka harus memanfaatkan kejuaraan ini untuk mengukur kemampuan sebelum menghadapi pertandingan sebenarnya,” pungkas Divie.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....