Dwi Widiantoro Buktikan Tunanetra Bisa Raih Emas meski Minim Dukungan
- 06 Agt 2026 19:48 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung Barat – Di balik deretan medali yang mengharumkan nama Indonesia dan Kabupaten Bandung Barat di kancah nasional hingga internasional. Terukir kisah perjuangan yang tak banyak diketahui publik.
Dwi Widiantoro, warga Kampung Sudimampir, Padalarang telah membuktikan keterbatasan fisik bukan penghalang meraih puncak prestasi meski harus berjuang mandiri, membiayai latihan sendiri dan menghadapi kenyataan bahwa dukungan serta sarana dari pemerintah daerah belum memadai.
Di usianya yang kini menginjak 49 tahun, semangatnya tak pernah surut, kehidupan Dwi sempat berjalan normal hingga usia 14 tahun. Namun takdir berubah ketika menjelang usia 15 tahun, serangan virus merenggut penglihatannya secara total.
Di tengah kegelapan itu, ia menemukan harapan baru saat masuk asrama tunanetra dan mengenal olahraga disabilitas. "Di situlah saya sadar, keterbatasan bukan alasan untuk lemah. Saya justru menemukan tempat mengembangkan bakat dan terus berjuang berprestasi," ungkap Dwi, Kamis 6 Agustus 2026.
Langkah demi langkah ia bangkit, dibantu keteguhan hati serta sosok pendamping setia, yakni sang istri yang senantiasa mendampinginya dalam setiap keadaan. Kini sebagai atlet cabang bowling, Dwi berlatih sepenuhnya secara mandiri dengan biaya dari kantong pribadi. Sarana pendukung dan perhatian dari Kabupaten Bandung Barat sejauh ini nyaris belum ada.
"Dibandingkan daerah lain, dukungan dan fasilitas di sini masih jauh sekali," ungkapnya. Meski harus berperang dengan diri sendiri menjaga mental dan semangat di tengah keterbatasan, ia tak pernah menyerah. Kegagalan dipandangnya sebagai keberhasilan yang tertunda dan tekad membela nama Indonesia menjadi bahan bakar yang tak pernah habis.
Puncak kebanggaannya terukir saat meraih medali emas Asian Para Games 2018 di Jakarta, saat bendera merah putih berkibar, hatinya dipenuhi rasa haru dan bangga menjadi bukti nyata kerja keras tak pernah mengkhianati hasil.
Di balik semua capaian itu, harapan Dwi cukup sederhana, ia hanya ingin agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat bisa lebih responsif terhadap kebutuhan atlet disabilitas dan NPCI setempat.
"Sarana dan prasarana yang belum memadai tak seharusnya menjadi penghalang prestasi anak-anak disabilitas daerah," ungkapnya.
Dwi juga berpesan kepada sesama penyandang disabilitas di Bandung Barat untuk tidak menjadikan keterbatasan alasan menjadi lemah, namun harus menjadi kekuatan untuk terus berprestasi.
"Sebab bagi saya pribadi, sebuah medali bukan sekadar logam berkilau, tapi cerminan diri, bukti kerja keras tanpa henti dan jawaban bahwa mimpi itu tetap bisa diraih meski jalannya penuh rintangan," tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....