NPCI Jabar Bekali Atlet Disabilitas Keterampilan Wirausaha Mandiri

  • 19 Des 2025 06:57 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Jawa Barat terus menunjukkan produktivitasnya dalam pembinaan sumber daya insan olahraga disabilitas. Di penghujung 2025, NPCI Jabar menggelar “Pelatihan Keterampilan Atlet dan Mantan Atlet” yang berlangsung di Hotel Serela, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Kamis (18/12/2025).

Pelatihan tersebut diikuti 27 pengurus cabang (Pengcab) NPCI kota dan kabupaten se-Jawa Barat. Kegiatan digelar selama dua hari, 18–19 Desember 2025, sebagai upaya membekali atlet dan mantan atlet dengan keterampilan nonteknis untuk menghadapi masa depan setelah aktif berprestasi.

Salah satu topik yang paling menyedot perhatian peserta adalah peluang berwirausaha dengan berlandaskan nilai dedikasi, loyalitas, dan toleransi. Materi ini dinilai relevan sebagai bekal kemandirian ekonomi bagi insan NPCI Jabar di luar arena kompetisi olahraga.

Topik kewirausahaan tersebut disampaikan oleh pengusaha rumah makan khas Sunda Ampera, Yuheni. Alumnus Institut Manajemen Koperasi Indonesia (IKOPIN) ini mengulas secara lugas peluang bisnis kuliner yang dapat dijajaki atlet dan mantan atlet disabilitas sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Baca juga:Hodak Sebut Bobotoh Pemain ke-12 untuk Kalahkan Bhayangkara

Yuheni merupakan putri kelima dari pasangan H. Tatang Sujani dan St. E. Rochaety, perintis RM Ampera sejak 1963. Ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki motivasi untuk maju, termasuk para penyandang disabilitas yang selama ini telah membuktikan ketangguhannya melalui prestasi olahraga.

“Hidup itu memang keras, perlu perjuangan, ikhtiar, dan doa. Teman-teman disabilitas ini semuanya punya skill. Mereka hebat, jago-jago. Motivasinya juga luar biasa. Abdi mah eleh (saya sih kalah). Saya tidak mungkin jadi juara, tapi mereka sudah juara di mana-mana, dapat medali, dapat bonus uang,” ujar Yuheni.

Terkait rintisan usaha, Yuheni menekankan bahwa semua pelaku usaha pasti berangkat dari nol. Menurutnya, keterbatasan modal bukan alasan untuk berhenti melangkah karena setiap usaha membutuhkan proses dan keberanian untuk memulai.

“Tak perlu modal besar. Memangnya bapak saya dulu pakai modal besar? Enggak. Pokokna wani we heula (berani saja dulu). Bismillah saja. Masing-masing punya keahlian, dan keahlian yang ada di depan mata itulah bisnisnya,” tuturnya.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Yuheni menyatakan RM Ampera terbuka bagi atlet disabilitas NPCI Jabar untuk melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) sesuai kapasitas dan kapabilitas masing-masing. Ia berharap para difabel kelak mampu menjadi pemilik usaha yang mandiri.

“Saya ingin teman-teman difabel ini semuanya jadi bos. Untuk jadi bos memang butuh proses, tapi itu harus dijalani. Ya berproseslah,” kata Yuheni.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....