Pakar ITB: Dentuman Terdengar di Bandung Belum Bisa Dipastikan dari Anak Krakatau

  • 06 Sep 2026 19:11 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Suara dentuman yang dirasakan warga di sejumlah wilayah Bandung dan sekitarnya pada Sabtu dini hari, 4 September 2026 masih menyisakan pertanyaan mengenai sumbernya. Pakar Vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman, menilai dugaan dentuman tersebut berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau masih memerlukan pembuktian melalui kajian lebih lanjut.

Mirzam mengatakan, waktu terjadinya dentuman di Jawa Barat memang berdekatan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan adanya hubungan langsung antara kedua peristiwa.

“Belum tentu. Perlu kajian lebih lanjut untuk memastikan sumbernya,” ujar Mirzam, Minggu 6 September 2026.

Menurut Mirzam salah satu kemungkinan yang menarik untuk diteliti adalah acoustic shadow zone atau zona bayangan suara. Fenomena ini berkaitan dengan kondisi atmosfer yang dapat mengubah arah dan pola perambatan gelombang suara.

Perubahan suhu udara, arah angin, serta kecepatan angin pada lapisan atmosfer tertentu dapat menyebabkan gelombang suara dibiaskan dan bergerak ke arah berbeda dari jalur normalnya. Kondisi tersebut memungkinkan munculnya wilayah yang justru tidak menerima suara secara langsung meski lokasinya relatif dekat dengan sumber, sementara gelombang suara dapat kembali mencapai permukaan di wilayah yang lebih jauh.

Mirzam menjelaskan, energi gelombang yang berada di atas zona bayangan dapat mengalami penyebaran akibat turbulensi atmosfer. Gelombang juga dapat mengalami difraksi sehingga sebagian energinya kembali terdengar di permukaan.

“Sebagian energi suara yang bergerak di atas zona bayangan dapat mengalami scattering atau penyebaran akibat turbulensi atmosfer. Dalam kondisi tertentu, gelombang tersebut juga dapat mengalami difraksi sehingga sebagian energinya kembali mencapai permukaan di tempat yang lebih jauh,” katanya.

Meski demikian, Mirzam menegaskan fenomena tersebut baru sebatas hipotesis. Sumber dentuman tidak dapat ditentukan hanya dengan melihat jarak antara Bandung dan Gunung Anak Krakatau ataupun mencocokkan waktu kejadian.

Faktor lain seperti kondisi topografi wilayah dan berbagai penghalang di antara sumber suara dengan lokasi penerima juga perlu diperhitungkan. Untuk memastikan asal gelombang suara tersebut, diperlukan pencocokan sejumlah data seperti waktu suara tiba di berbagai lokasi, kondisi atmosfer saat kejadian, karakteristik sinyal suara, serta hasil pengamatan dari sejumlah titik di wilayah Jawa bagian barat.

“Jadi, dentuman semalam masih menjadi sebuah pertanyaan menarik, bukan sebuah kesimpulan. Kajian lebih mendalam tentu perlu kita lakukan,” ujarnya.

Sebelumnya, Badan Geologi mengatakan dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di Jawa Barat, Banten, dan Lampung memiliki kaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu hampir bersamaan. Sementara itu, berdasarkan pemantauan BMKG, tidak ditemukan rekaman gempa di wilayah Bandung Raya ketika laporan dentuman muncul.

Kondisi tersebut membuat fenomena ini masih membutuhkan penelitian untuk mengetahui sumber sebenarnya. Mirzam mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan dari kemunculan dua fenomena alam yang waktunya berdekatan, pengamatan dan analisis berbasis data diperlukan dalam hal ini

Adapun Gunung Anak Krakatau saat ini berstatus Level III atau Siaga. Badan Geologi mengimbau masyarakat, wisatawan, maupun pendaki tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung api tersebut serta mengikuti informasi dari lembaga resmi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....