Peneliti Sebut SINTEX-F Mampu Optimalkan Ketahanan Pangan Nasional

  • 19 Jan 2026 13:08 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung: Pemanfaatan prakiraan iklim musiman dinilai memiliki peran strategis dalam Program Ketahanan Pangan Nasional (National Food Security Program/NFSP). Hal ini mengemuka dalam podcast kerjasama antara Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayasan Garuda di Lautku Inisiatif, dan RRI Bandung bertajuk “SINTEX-F Seasonal Forecast and the National Food Security Program” yang digelar di RRI Bandung, Senin 19 Januari 2026.

Direktur Application Laboratory Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), Swadhin K. Behera, menjelaskan bahwa sistem SINTEX-F merupakan model prakiraan iklim musiman yang mampu memprediksi dinamika interaksi laut dan atmosfer, termasuk fenomena El Nino–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD), beberapa bulan sebelum terjadi.

Menurut Swadhin, informasi prakiraan tersebut sangat penting bagi Indonesia yang sektor pangannya sangat sensitif terhadap perubahan iklim. “Dengan SINTEX-F, kita dapat mengantisipasi potensi musim kering atau basah lebih awal, sehingga perencanaan tanam, pengelolaan air, hingga mitigasi bencana dapat dilakukan secara lebih tepat dan terukur,” ujarnya.

Ia menambahkan, penerapan prakiraan iklim musiman tidak hanya relevan bagi sektor pertanian, tetapi juga perikanan, kesehatan, dan pengelolaan sumber daya air. Dalam sektor pertanian, data iklim musiman dapat dimanfaatkan untuk menentukan kalender tanam, pemilihan varietas tanaman, serta strategi irigasi, sehingga risiko gagal panen akibat kekeringan atau banjir dapat ditekan.

Baca juga : Komunitas Zero Waste Bedah Ancaman Kerusakan Ekosistem

Sementara itu, Kepala Program Studi Iklim dan Pengelolaan Wilayah Maritim, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad, Fadli Syamsudin menekankan pentingnya integrasi informasi iklim ke dalam kebijakan lintas sektor sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Fadly menilai, pendekatan berbasis sains menjadi kunci agar program ketahanan pangan tidak bersifat reaktif, melainkan antisipatif.

“Ketahanan pangan tidak bisa dilepaskan dari faktor iklim. Oleh karena itu, kolaborasi antara lembaga riset, pemerintah, dan masyarakat sangat dibutuhkan agar data prakiraan iklim dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan langkah nyata di lapangan,” kata Fadly.

Dalam diskusi tersebut juga dibahas dampak perubahan iklim terhadap sektor perikanan, ketersediaan air bersih, serta kesehatan masyarakat. Prakiraan iklim musiman dinilai mampu mendukung kesiapsiagaan menghadapi gelombang panas, penyakit berbasis iklim, hingga ancaman kelangkaan air di sejumlah wilayah.

Melalui pemanfaatan sistem seperti SINTEX-F, para narasumber sepakat bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat ketahanan pangan secara berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada impor pangan darurat, serta meminimalkan dampak ekonomi akibat variabilitas iklim.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....