Camat: Cihampelas Jadikan SPPG Garda Terdepan Zero Stunting

  • 09 Jan 2026 16:50 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung Barat - Pemerintah Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB), memperkuat strategi pencegahan stunting dengan mendorong seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi garda terdepan program zero stunting. Upaya tersebut ditegaskan seiring peresmian SPPG Cipatik II yang beroperasi di lingkungan Pondok Pesantren Mambaul Falah, Desa Cipatik, Kamis 8 Januari 2026.

Camat Cihampelas, Agus Rudianto menegaskan, SPPG memiliki peran strategis dalam memastikan efektivitas program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama bagi kelompok rentan seperti balita, peserta didik, dan ibu hamil. Menurutnya, keberhasilan penanganan stunting tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan anggaran, tetapi juga ketepatan tata kelola di tingkat pelaksana.

“SPPG bukan sekadar pelengkap, melainkan ujung tombak pemenuhan gizi masyarakat. Karena itu, kami mendorong seluruh SPPG di Cihampelas menjadi pionir terwujudnya zero stunting. Kita harus belajar dari berbagai kasus sebelumnya, seluruh persyaratan harus dipenuhi sejak awal agar program berjalan aman dan tepat sasaran,” kata Agus.

Baca juga : Panen Raya Jagung Serentak Dukung Swasembada Pangan

Ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN), mulai dari kelayakan dapur, peralatan, sumber daya manusia, hingga penetapan penerima manfaat. Agus menilai, disiplin prosedural menjadi kunci untuk mencegah persoalan dalam pelaksanaan MBG.

Berdasarkan hasil monitoring kecamatan, SPPG Cipatik II dinilai telah memenuhi aspek kesiapan operasional dan dinyatakan layak menjalankan program MBG. Kehadiran SPPG ini diharapkan memperkuat cakupan layanan gizi di Desa Cipatik dan sekitarnya.

Kepala SPPG Cipatik II, Ali Abdul Aziz, menyampaikan bahwa lembaganya siap menjalankan pengelolaan MBG secara bertahap dan profesional. Saat ini, SPPG Cipatik II melayani sekitar 1.700 Penerima Konsumsi Manfaat (PKM) yang terdiri dari peserta didik dan kelompok berisiko (B3).

Untuk mendukung operasional, SPPG Cipatik II melibatkan 54 relawan, termasuk tenaga ahli gizi dan tim akuntansi. “Dengan sumber daya yang ada, kami optimistis dapat menyuplai MBG secara berkelanjutan dan sesuai ketentuan,” ujar Ali.

Ia menegaskan komitmen pengelola untuk menjalankan program MBG sesuai standar BGN guna meminimalkan risiko dan menjaga kepercayaan publik. Peresmian SPPG Cipatik II pun menjadi bagian dari penguatan kolaborasi antara pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat dalam menekan angka stunting di Kabupaten Bandung Barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....