Ritual "Misalin" dan "Nyekar" di Masyarakat Galuh Ciamis
- 04 Feb 2026 11:22 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung : Upacara Misalin merupakan tradisi sakral masyarakat Galuh yang berpusat di Situs Dalem Galuh, Desa Karangkamulyan, Ciamis, menjelang datangnya bulan Ramadhan. Secara etimologis, "Misalin" berasal dari kata "salin" yang berarti mengganti atau mengubah.
Ritual ini menjadi simbol perubahan perilaku dari yang buruk menjadi baik, serta penggantian pakaian batin dari yang kotor menjadi bersih. Melalui upacara ini, warga diingatkan untuk menanggalkan segala sifat negatif sebelum memasuki bulan suci, sehingga mereka dapat menjalankan ibadah puasa dalam keadaan fitrah.
Prosesi Misalin dimulai dengan arak-arakan warga yang membawa aneka hasil bumi dan makanan khas untuk dinikmati bersama. Salah satu elemen unik dalam ritual ini adalah prosesi penggantian busana atau pembersihan diri secara simbolis, yang sering kali melibatkan doa-doa khusus di area situs keramat.
Baca juga : Pesona Magis Bebegig Sukamantri Ciamis
Suasana khidmat sangat terasa saat tokoh adat memimpin doa syukur, memohon keselamatan dan kelancaran ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain nilai religius, Misalin menjadi ajang penguat solidaritas karena seluruh lapisan masyarakat melebur tanpa sekat dalam kegembiraan menyambut Ramadhan.
Setelah prosesi adat selesai, masyarakat Galuh biasanya melanjutkan rangkaian kegiatan dengan Nyekar atau ziarah kubur ke makam leluhur dan keluarga. Tradisi Nyekar di tatar Galuh memiliki kekhasan tersendiri, di mana warga membawa air dalam bumbung bambu atau kendi serta menaburkan bunga warna-warni di atas pusara.
Bagi mereka, Nyekar bukan sekadar kunjungan fisik, melainkan jembatan spiritual untuk menghormati jasa para pendahulu dan mendoakan ketenangan arwah mereka. Momen ini juga menjadi pengingat bagi setiap individu akan kefanaan hidup di dunia.
Kombinasi antara Misalin dan Nyekar menciptakan harmoni spiritual yang lengkap bagi masyarakat Ciamis dalam menjaga warisan budaya leluhur. Keberlanjutan tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai kearifan lokal Galuh tetap relevan sebagai kompas moral bagi generasi muda agar tetap rendah hati dan menjunjung tinggi etika di tengah perkembangan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....