Bukan Acara Khitanan, Roti Buaya Awalnya Barang Seserahan

  • 14 Jul 2024 10:53 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Beberapa masyarakat yang tinggal di daerah tertentu, biasanya menyediakan roti buaya untuk acara adat, utamanya ketika acara khitanan. Namun, siapa sangka, dalam sejarah roti buaya ternyata disediakan untuk acara terkait pernikahan adat pada sebagian masyarakat Betawi.

Di beberapa masyarakat daerah tertentu, roti buaya selalu menjadi andalan dan bisa dikatakan wajib disertakan dalam sebuah acara. Selain bentuknya yang berkesan dan menarik, roti buaya juga dipercaya memiliki alur sejarah dan makna fisiologis yang unik.

Dilansir dari Orami Magazine, dinamakan roti buaya karena terinsipirasi dari tingkah buaya yang hanya kawin sekali seumur hidup. Konon, roti buaya oleh sebagian masyarakat dianggap dan dipercaya dapat mewakili kesetiaan hidup bersama pasangan yang akan menikah.

Diperkuat oleh tulisan dari laman warisanbudaya.kemendikbud, roti buaya merupakan makanan khas masyarakat betawi di acara khusus seperti pernikahan. Biasanya roti buaya bisa memiliki panjang 50 centimeter bahkan lebih, dan biasanya dibawa oleh pengantin pria beserta seserahan.

Seiring berkembangnya pengetahuan dan berubahnya pola pikir masyarakat pada era sekarang, roti buaya bisa dinikmati kapan dan di mana saja. Keberadaan roti buaya bisa ditemui dalam acara apapun seperti khitanan, ulang tahun atau sekedar nongkrong menikmati roti buaya.

Pada awal keberadaanya, roti buaya dibuat dengan tekstur keras, namun seiring perkembangan masyarakat dan teknologi, berubah menjadi lembut. Meski saat ini bentuk dan rasanya bervariasi, tetapi pada umumnya roti buaya tetap memiliki rasa manis dan polos.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....