20 Tahun Jualan Sate jando, Kini Bertahan di Pusdai
- 30 Agt 2026 13:23 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung -Selama kurang lebih 20 tahun, Mamah Putri Sri Lestari bersama pasangannya, Bapa Wadi, terus mempertahankan usaha sate yang mereka rintis dari Jalan Jawa hingga kini berjualan di kawasan Pusdai, Bandung.
Perjalanan panjang tersebut tidak selalu berjalan mulus. Sebelum berjualan di Pusdai, Mamah Putri dan Bapa Wadi terlebih dahulu berjualan di Jalan Jawa. Namun, setelah pandemi Covid-19, aktivitas jualan mereka sempat terhenti hingga akhirnya memilih melanjutkan usaha di kawasan Pusdai.
“Sudah 20 tahun jualan. Dulu di Jalan Jawa, terus waktu corona berhenti. Setelah itu pindah ke Pusdai,” ujar Mamah Putri Sri Minggu 30 Agustus 2026.
Setiap hari, usaha sate tersebut mulai beroperasi sejak pukul 06.00 WIB hingga sekitar pukul 11.00 WIB. Dengan pelanggan yang sudah dimiliki sejak lama, dalam sehari mereka dapat menghabiskan hingga sekitar 1.000 tusuk sate.
“Kalau sehari bisa habis sekitar seribu tusuk. Alhamdulillah masih ada pelanggan tetap,” katanya.
Sate tersebut dijual dengan harga sekitar Rp18 ribu per porsi. Untuk kebutuhan acara khusus, pelanggan dapat memesan dengan ukuran dan jumlah yang disesuaikan.
Selain harga, salah satu daya tarik sate Mamah Putri dan Bapa Wadi terletak pada bumbu yang menjadi ciri khas. Racikan bumbu tersebut menjadi salah satu alasan pelanggan tetap kembali menikmati sate mereka.
“Rahasianya di bumbu. Bumbunya tidak pakai micin. Gurihnya itu dari aren dan kacang,” ujar Mamah Putri.
Menurutnya, cita rasa tersebut sudah dipertahankan sejak mereka mulai berjualan. Bumbu yang dibuat tanpa menggunakan penyedap rasa menjadi salah satu keunikan yang ditawarkan kepada pelanggan.
Namun, mempertahankan usaha selama dua dekade bukan tanpa tantangan. Kenaikan harga bahan pokok menjadi salah satu kendala yang mereka rasakan hingga saat ini.
“Bahan pokok naik terus. Kita juga kasihan ke pelanggan kalau harga terus dinaikkan,” tuturnya.
Kondisi tersebut membuat Mamah Putri dan Bapa Wadi harus berusaha menjaga harga tetap terjangkau, sekaligus mempertahankan kualitas dan rasa sate.
Di Pusdai, keduanya juga belum memiliki lapak permanen. Mereka menggunakan lapak yang pengelolaannya berada di lingkungan RW dengan sistem pembayaran seikhlasnya.
Sebelumnya, saat masih berjualan di Jalan Jawa, usaha mereka juga sempat terkena penertiban atau kurasi lokasi sehingga harus berpindah tempat. Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat keduanya berhenti menjalankan usaha.
Selain berjualan setiap pagi, sate tersebut juga dapat dipanggil atau dipesan untuk kebutuhan acara tertentu.
“Kita juga bisa dipanggil kalau ada acara. Untuk acara khusus, ukurannya bisa beda, disesuaikan pesanannya,” ujar Bapa Wadi.
Setelah melewati perjalanan selama 20 tahun, harapan terbesar keduanya kini adalah memiliki tempat berjualan yang tetap. Dengan adanya lapak permanen, mereka berharap usaha yang selama ini dijalankan bersama dapat lebih nyaman dan terus berkembang.
“Harapannya ingin punya tempat atau lapak tetap,” kata Bapa Wadi.
Perjalanan Mamah Putri Sri Lestari dan Bapa Wadi menjadi gambaran bagaimana sebuah usaha kuliner sederhana dapat bertahan selama puluhan tahun dengan mengandalkan cita rasa, pelanggan tetap, serta ketekunan menghadapi berbagai tantangan.
Dari Jalan Jawa hingga Pusdai, keduanya terus menjaga resep dan cita rasa sate yang menjadi sumber penghidupan sekaligus bagian dari perjalanan panjang mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....