Menelusuri Sejarah dan Asal-Usul Serabi Nusantara
- 29 Jun 2026 09:48 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Serabi merupakan salah satu jajanan pasar paling legendaris di Nusantara yang memiliki akar sejarah sangat kuat di Pulau Jawa. Secara etimologi, nama serabi atau srabi diyakini berasal dari bahasa Jawa kuno yang merujuk pada rasa manis, sementara dalam bahasa Sanskerta memiliki makna "wangi" atau "harum".
Secara historis, keberadaan penganan ini bahkan telah tercatat sejak masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-8 Masehi. Bukti tertulis mengenai eksistensi serabi tertuang dalam Serat Centhini (ditulis pada tahun 1814–1823), di mana para pujangga keraton menyebutkan bahwa serabi merupakan salah satu dari sembilan jenis sesaji yang wajib dihadirkan dalam upacara adat, ruwatan, dan pertunjukan wayang.
Sejarawan kuliner mencatat bahwa resep serabi tradisional murni memanfaatkan hasil bumi lokal berupa tepung beras, santan kelapa, dan gula merah. Pola memasaknya pun sangat ikonik dan dipertahankan lintas generasi, yakni dipanggang menggunakan wajan cekung kecil dari tanah liat (cowek) di atas bara api arang untuk menghasilkan tekstur bawah yang renyah namun lembut serta berlubang di bagian tengahnya.
Dalam perkembangannya, serabi berevolusi menjadi dua varian besar yang membelah preferensi kuliner di Indonesia, yaitu Serabi Solo dan Serabi Bandung. Serabi Solo, yang mewakili gaya Jawa Tengahan, memiliki karakteristik fisik yang cenderung tipis, sangat lembut, serta dipercantik oleh pinggiran renyah atau kerak di sekelilingnya. Dari segi rasa, penganan ini didominasi oleh cita rasa manis legit karena santan dan gula langsung dicampur ke dalam adonan, lalu disajikan secara tradisional dengan cara digulung dan dibungkus daun pisang segar agar praktis dibawa.
Sebaliknya, Serabi Bandung yang mengusung gaya Sunda tampil dengan bentuk yang lebih tebal, padat, dan bulat penuh menyerupai pancake. Karakter rasanya justru cenderung gurih alami di mana kemanisan atau variasinya baru didapat dari siraman kuah kinca (gula merah cair) atau topping tradisional seperti oncom, serta disajikan secara terbuka di atas piring atau lembaran daun pisang.
Eksistensi serabi sebagai bisnis komersial mulai meledak pada awal abad ke-20. Salah satu tonggak sejarahnya dipelopori oleh pasangan Hoo Geng Hok dan Tan Giok Lan pada tahun 1923 di Solo, yang kreasinya kini melegenda sebagai Serabi Notosuman. Berawal dari ketidaksengajaan memodifikasi kue apem menjadi lebih pipih atas permintaan pelanggan, inovasi ini justru menjadi warisan budaya takbenda yang bertahan hingga saat ini.
Kini, serabi tidak lagi dipandang sebagai sekadar jajanan pasar kelas bawah. Di era modern, serabi berhasil beradaptasi dengan selera generasi muda melalui modifikasi AFT (Advanced Foodwear Technology) kuliner berupa penambahan topping kekinian seperti keju, sosis, mayones, hingga cokelat premium tanpa kehilangan esensi cara pembuatan tradisionalnya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....