Kadedemes, Kuliner “Tersembunyi” dari Sumedang yang Lahir dari Masa Sulit

  • 30 Mei 2026 10:01 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Kalau berbicara tentang kuliner khas Sumedang, kebanyakan orang pasti langsung teringat tahu Sumedang. Gorengan legendaris dengan kulit kecokelatan yang renyah di luar dan lembut di dalam itu memang sudah lama menjadi identitas daerah tersebut. Popularitasnya bahkan membuat nama Sumedang hampir selalu identik dengan tahu.

Namun, di balik ketenaran kuliner itu, ternyata ada makanan tradisional lain yang tak kalah menarik untuk dibahas, yakni kadedemes. Berbeda dengan tahu Sumedang yang sudah dikenal luas, kadedemes justru lebih akrab di kalangan masyarakat lokal dan perlahan mulai jarang terdengar oleh generasi muda.

Dilansir dari mojok.com, kadedemes bukanlah makanan modern ataupun tren kuliner baru. Hidangan ini dipercaya sudah hadir sejak masa penjajahan Belanda, ketika masyarakat harus bertahan hidup di tengah keterbatasan bahan pangan dan kondisi ekonomi yang sulit.

Dari situ, masyarakat mulai memanfaatkan bahan makanan yang kerap dianggap tidak berguna, salah satunya kulit singkong. Bagian yang biasanya dibuang itu kemudian diolah menjadi lauk sederhana yang ternyata mampu mengenyangkan dan memiliki cita rasa khas.

Nama “kadedemes” sendiri berasal dari bahasa Sunda yang memiliki makna tentang rasa sayang atau kepedulian terhadap sesuatu yang kerap dianggap sepele. Filosofi tersebut menggambarkan cara masyarakat zaman dulu menghargai setiap bahan makanan yang ada, bahkan dari bagian yang sering dianggap limbah sekalipun.

Nilai itulah yang membuat kadedemes bukan sekadar makanan rumahan biasa. Di balik kesederhanaannya, tersimpan cerita tentang kreativitas, ketahanan hidup, dan kemampuan masyarakat memanfaatkan apa yang tersedia untuk bertahan di masa sulit.

Bahan utama kadedemes memang terdengar tidak biasa. Makanan ini dibuat dari kulit singkong bagian dalam yang berwarna putih atau sedikit keunguan, bukan kulit luar yang keras dan kasar.

Proses pengolahannya pun cukup panjang.

Kulit singkong harus dibersihkan terlebih dahulu, kemudian direbus hingga empuk untuk menghilangkan getah dan lendir. Setelah itu, bahan dicuci kembali sampai benar-benar bersih sebelum dipotong kecil-kecil dan diolah menjadi masakan.

Kadedemes biasanya dimasak seperti tumisan sederhana dengan bumbu dapur yang mudah ditemukan. Bawang merah, bawang putih, cabai rawit, garam, hingga sedikit terasi menjadi perpaduan utama yang menghasilkan aroma kuat dan cita rasa gurih pedas yang khas.

Saat disajikan bersama nasi hangat, kadedemes menghadirkan rasa sederhana namun berkarakter. Teksturnya yang lembut berpadu dengan sensasi pedas membuat makanan ini tetap dirindukan oleh sebagian masyarakat Sunda hingga sekarang.

Sayangnya, keberadaan kadedemes kini mulai jarang ditemui. Di tengah maraknya makanan instan, cepat saji, hingga tren kuliner viral yang terus berganti, makanan tradisional seperti ini perlahan tersisih dari perhatian masyarakat.

Bahkan, tidak semua rumah makan Sunda masih menyediakan kadedemes dalam daftar menu mereka. Banyak anak muda yang belum pernah mencicipinya, bahkan tidak mengetahui nama makanan tersebut.

Padahal, kadedemes menyimpan nilai budaya yang cukup kuat. Kuliner ini menjadi pengingat bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang sejarah, perjuangan hidup, dan cara sebuah masyarakat menghargai bahan pangan di sekitarnya.

Perubahan zaman memang sulit dihindari, tetapi bukan berarti makanan tradisional harus hilang begitu saja. Kadedemes masih memiliki peluang untuk dikenalkan kembali, baik melalui dapur keluarga, festival kuliner daerah, maupun cerita turun-temurun dari generasi sebelumnya.

Sebab pada akhirnya, setiap makanan tradisional selalu membawa kisah yang melekat di balik rasanya. Dan kadedemes, dengan segala kesederhanaannya, merupakan salah satu warisan kuliner yang layak untuk terus dikenang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....