Pencok Katel: Cita Rasa Unik Kuliner Khas Majalengka
- 05 Mei 2026 11:05 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Majalengka - Pencok Katel merupakan kuliner tradisional yang menjadi kebanggaan sekaligus identitas kuliner masyarakat Kabupaten Majalengka. Berbeda dengan pencok pada umumnya yang menggunakan kacang panjang atau timun, hidangan ini menggunakan "katel" sebagai bahan utamanya.
Katel sendiri adalah kacang kedelai yang baru tumbuh dan masih memiliki dua keping biji serta batang yang sangat muda, memberikan tekstur renyah dan rasa yang segar saat disantap. Bahan baku katel memiliki ketersediaan yang cukup terbatas karena hanya bisa ditemukan di daerah tertentu di Majalengka, seperti di wilayah Kadipaten dan sekitarnya.
Tanaman ini biasanya dipanen saat usianya masih sangat muda, sehingga memberikan sensasi rasa manis alami yang khas. Keunikan bahan baku inilah yang membuat Pencok Katel menjadi buruan utama bagi para wisatawan yang berkunjung ke "Kota Angin" untuk mencicipi hidangan otentik yang jarang ditemukan di tempat lain.
Proses pembuatan Pencok Katel tergolong sangat sederhana namun membutuhkan racikan bumbu yang pas untuk menghasilkan harmoni rasa. Bumbu utamanya terdiri dari kencur, cabai rawit, bawang putih, garam, dan sedikit terasi yang diulek mentah bersama gula merah.
Setelah bumbu halus, katel segar dimasukkan ke dalam cobek dan diaduk hingga merata tanpa melalui proses memasak di atas api, sehingga kandungan nutrisi dan kesegarannya tetap terjaga dengan baik.
Saat dinikmati, Pencok Katel menawarkan perpaduan rasa pedas, gurih, dan aroma kencur yang sangat kuat dan menggugah selera. Hidangan ini paling nikmat disantap bersama nasi hangat, ikan asin, dan tahu atau tempe goreng dalam suasana makan siang di tepi sawah.
Rasa renyah dari batang katel yang pecah di mulut saat dikunyah memberikan pengalaman sensorik unik yang selalu membuat siapa pun yang mencicipinya ingin kembali lagi ke Majalengka. Sebagai warisan kuliner turun-temurun, Pencok Katel terus bertahan di tengah gempuran makanan modern karena kesederhanaan dan keaslian rasanya.
Banyak rumah makan di Majalengka yang tetap mempertahankan menu ini sebagai sajian utama untuk melestarikan kekayaan hayati lokal. Dengan menjaga tradisi menyantap katel, masyarakat tidak hanya merawat lidah, tetapi juga mendukung keberlangsungan para petani lokal yang masih setia membudidayakan tanaman khas ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....