Menelusuri Jejak Panjang Sejarah Rujak di Nusantara

  • 29 Mar 2026 15:48 WIB
  •  Bandung
RRI. CO.ID, Bandung - Rujak dipercaya telah menjadi bagian dari kuliner Nusantara sejak zaman Jawa Kuno, sebagaimana tercatat dalam prasasti dari abad ke-10. Peneliti sejarah kuliner Fadly Rahman menyebutkan bahwa istilah rurujak sudah ditemukan dalam Prasasti Taji (901 M) di Jawa Timur.

Data literatur menunjukkan bahwa makanan ini awalnya disajikan dalam upacara adat sebagai simbol kesuburan dan rasa syukur. Dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518 M), variasi rasa asam dan pedas dari buah-buahan sudah dikenal luas oleh masyarakat Sunda.

Arkeolog Titi Surti Nastiti dalam studinya mengenai menu makanan masyarakat Jawa Kuno menegaskan bahwa buah-buahan seperti mangga dan jambu merupakan bahan utama rujak sejak masa kerajaan. Penggunaan sambal kacang dan terasi diperkirakan mulai berkembang seiring masuknya pengaruh perdagangan rempah di pesisir pulau Jawa.


Sejarah mencatat bahwa rujak bukan sekadar camilan, melainkan elemen penting dalam tradisi kehamilan yang dikenal sebagai Naloni Mitoni. Peneliti Denys Lombard dalam buku Nusa Jawa: Silang Budaya menjelaskan bagaimana perpaduan rasa dalam rujak melambangkan dinamika kehidupan manusia yang beragam.

Transformasi rujak di Indonesia juga dipengaruhi oleh teknik pengolahan gula kelapa dan cabai yang dibawa oleh bangsa pendatang di masa lampau. Peneliti Andreas Maryoto mengungkapkan bahwa variasi rujak di setiap daerah, seperti Rujak Cingur atau Rujak Bebeg, mencerminkan ketersediaan bahan pangan lokal yang sangat kaya.

Dokumentasi kolonial dalam buku masak abad ke-19 sering menyebutkan hidangan buah pedas ini sebagai "salad lokal" yang dinikmati oleh penduduk pribumi maupun kaum elit. Literatur sejarah ini memperkuat posisi rujak sebagai salah satu makanan tertua yang resep dasarnya masih bertahan hingga era modern.

Secara keseluruhan, rujak adalah bukti evolusi rasa yang menyatukan unsur agraris dan tradisi kepercayaan masyarakat Indonesia selama lebih dari seribu tahun. Keberadaan nama penemu dan naskah pendukung menjadikan sejarah rujak sebagai warisan budaya tak benda yang memiliki landasan akademis kuat.
google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....