Kakaren Lebaran : Simbol Kebahagian yang Tersisa

  • 22 Mar 2026 18:56 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung- Jika dilihat dari kacamata budaya terutama budaya Sunda, kakaren merupakan salah satu istilah terhormat untuk menyebut aneka makanan atau penganan khas hari lebaran yang masih bertahan setelah hari H berlalu.

Setelah berbagai aktivitas dalam merayakan hari raya lebaran, dan setelah gema takbir serta hiruk-pikuk silaturahmi berbagai kalangan masyarakat hingga beberapa hari setelah lebaran, kakaren mempunyai peranan utama, bukan sebagai makanan buangan, melainkan sebagai makanan warisan kebersamaan yang tersisa.

Menurut Kamus Bahasa Sunda, R Satjadibrata, istilah Kakaren mengalami bentuk dari kata kakarian, dilihat dari makna etimologi, kakarian berasal dari kata Kari ( Sisa/tinggal) yang mendapat konfiks ka-an, sehingga kakarian berarti sisa atau sesa makanan.

Di dalam penggunaannya istilah Kakaren, tidak hanya merujuk pada sisa makanan tetapi sering berkaitan dengan lebaran, sehingga sudah menjadi kebiasaan jika setelah merayakan lebaran, pasti ada Kakaren lebaran.

Dan biasanya menjadi salah satu makanan yang disajikan kepada kerabat, teman dan keluarga setelah hari lebaran untuk dinikmati secara bersama-sama.

Kakaren lebaran terbagi menjadi dua kubu yang selalu menggugah selera bagi keluarga atau tamu yang berkunjung, yang pertama ada kubu cemilan, seperti kue kering, makanan tradisional opak, rengginang, ulen goreng, seroja yang selalu tersaji dalam kaleng biscuit legendaris.

Dan yang kedua adalah makanan yang banyak dicari adalah kubu lauk pauk, seperti opor ayam, rendang, sambal goreng kentang ati yang mencapai puncak kenikmatan ketika sudah menjadi kakaren, walaupun melalui proses pemasakan yang berulang tetapi bumbu akan terasa lebih meresap, menciptakan sensasi dan harmoni rasa yang lebih kuat dibandingkan saat pertama kali disajikan.

Dalam tradisi masyarakat Jawa Barat , bukan hanya sekedar urusan perut, tetapi menjadi instrumen sosial, bahkan kakaren kerap dijadikan buah tangan saat mengunjungi kerabat saat hari-hari terakhir libur lebaran dan menjadi simbol bahwa kebahagiaan dirumah tersisa untuk dibagikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....