Gombyang Dermayu, Kuliner Lezat di Pesisir Utara Jawa Barat
- 27 Feb 2026 12:32 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Pesisir utara Jawa Barat memiliki kekayaan istimewa yang wajib dikenali orang banyak. Namun kekayaan tersebut bukanlah harta atau sesuatu yang bergelimang, melainkan sajian kuliner bernama Gombyang Dermayu.
Bukan sekadar sajian makanan laut biasa. Gombyang menjadi cerita panjang tentang laut, ketabahan nelayan, dan kecerdikan masyarakat pesisir dalam mengolah sesuatu yang dulu dianggap sebagai sisa-sisa hingga akhirnya kini menjadi kebanggaan masyarakat daerah khususnya di Kabupaten Indramayu.
Dikutip dari https://disparbud.jabarprov.go.id, menurut catatan sejarah, masyarakat Indramayu tak bisa dilepaskan dari kehidupan budaya maritim. Sejak berabad-abad lalu, wilayah ini dikenal sebagai daerah penghasil ikan, dan salah satu tangkapan yang melimpah ruah adalah ikan manyung.
Biasanya ikan berukuran besar ini sering diolah menjadi ikan asin jambal roti. Tapi bagian kepalanya kerap dibuang, dan dari sanalah asal usul Gombyang Dermayu tercipta.
| Baca juga: Tahu Gejrot Khas Cirebon, Kuliner Legendaris |
Dikisahkan secara turun-temurun, para nelayan zaman dulu membawa pulang bagian kepala ikan untuk diolah menjadi santapan. Bagian tersebut dimasak dengan teknik pindang menggunakan rempah sederhana yaitu kunyit, bawang, jahe, cabai, dan asam jawa.
Kuahnya melimpah, panas, dan harum. Saat disajikan, potongan ikan tampak bergoyang di dalam mangkuk sehingga kondisi tersebut melahirkan istilah 'gombyang', yang dalam bahasa pesisir berarti bergoyang atau terombang-ambing.
Dari hidangan sederhana nelayan, gombyang perlahan menjadi menu favorit masyarakat Dermayu. Kuahnya berwarna kuning keemasan dengan perpaduan rasa gurih dari ikan laut, asam segar dari belimbing wuluh atau asam jawa, dan pedas ringan yang menghangatkan tubuh.
Kini Gombyang Dermayu tidak hanya sebagai makanan lokal, tapi termasuk dalam bagian potensi wisata gastronomi Jawa Barat. Terlebih kuliner ini sudah ditetapkan menjadi salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2025.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....