Pasar Modal Jabar Juara Nasional, BPR Tertekan Kredit Bermasalah

  • 02 Sep 2026 20:18 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID,Bandung - Industri Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah (BPRS) di Jawa Barat masih mencatatkan pertumbuhan volume usaha hingga pertengahan tahun ini. Namun, dinamika perekonomian membuat industri BPR/BPRS harus ekstra waspada akibat peningkatan risiko kredit bermasalah.

Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman, mengungkapkan bahwa hingga Juni 2026, total aset BPR dan BPRS di Tatar Pasundan berhasil mencapai Rp33,18 triliun atau tumbuh 1,65 persen (year-on-year/yoy). Penyaluran kredit juga naik 2,81 persen menjadi Rp24,77 triliun, didukung akumulasi Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berjarak Rp21,80 triliun.

"Di tengah pertumbuhan tersebut, industri BPR dan BPRS di Jawa Barat memang menghadapi tantangan riil dari sisi kualitas kredit. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat meningkat dari 13,27 persen pada Juni 2025 menjadi 15,64 persen pada Juni 2026," kata Darwisman dalam keterangan tertulis yang diterma RRI, Rabu 2 September 2026.

Tekanan kualitas kredit ini berdampak langsung pada kinerja perolehan laba bersih BPR dan BPRS yang terkoreksi hingga 52,61 persen (yoy) menjadi Rp80 miliar. Meski demikian, OJK terus mendorong penguatan tata kelola serta efisiensi agar ketahanan BPR/BPRS tetap terjaga dalam melayani UMKM.

Berbeda dengan BPR, kinerja pasar modal di Jawa Barat justru menunjukkan performa yang amat solid. Jawa Barat mengukuhkan posisinya sebagai provinsi penyumbang investor terbanyak di Indonesia dengan torehan 5,78 juta Single Investor Identification (SID) atau menguasai 20,02 persen porsi nasional.

Tingginya angka partisipasi pasar modal ini didorong oleh geliat minat masyarakat terhadap instrumen investasi formal. Untuk pemegang Surat Berharga Negara (SBN), Jawa Barat menempati posisi kedua nasional dengan jumlah 308.404 investor, membuntut ketat DKI Jakarta.

"Tingginya jumlah investor menunjukkan bahwa literasi dan kesadaran masyarakat Jawa Barat akan investasi formal makin membaik. Nilai transaksi saham dari investor lokal bahkan menembus Rp42,67 triliun, terbesar ketiga nasional setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur," tutur Darwisman.

Kiprah korporasi asal Jawa Barat di lantai bursa juga kian diperhitungkan. Hingga saat ini, sebanyak 85 perusahaan lokal telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tersebar di sektor telekomunikasi, perbankan, manufaktur makanan-minuman, hingga migas dan properti.

Sementara itu, pada sektor Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan LKM Lainnya (PVML), tren positif terlihat pada pembiayaan modal ventura yang tumbuh 6,68 persen menjadi Rp3,33 triliun dengan NPF 5,04 persen. Sektor Perusahaan Pembiayaan menyalurkan dana Rp82,25 triliun (tumbuh 4,81 persen) dengan rasio NPF terkendali di 3,71 persen.

Pertumbuhan cukup masif meluncur dari industri Fintech Peer-to-Peer (P2P) Lending dengan outstanding pembiayaan mencapai Rp23,94 triliun (tumbuh 22,39 persen) serta didukung 7,15 juta rekening penggunanya. Adapun untuk aset Dana Pensiun di Jawa Barat terkoreksi tipis 2,50 persen secara tahunan menjadi Rp22,25 triliun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....