OJK Jawa Barat Dorong Generasi Muda Bijak Kelola Keuangan di Era Digital
- 02 Jul 2026 16:57 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung -Maraknya fenomena doom spending atau berbelanja demi meluapkan emosi, kini tengah membayangi generasi muda di Jawa Barat. Menjawab tantangan era digital ini, Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Provinsi Jawa Barat bergerak cepat memperkuat benteng literasi keuangan mahasiswa dan pelajar.
Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui seminar edukatif bertajuk “Pinjol dan Doom Spending”. Acara yang menyedot perhatian ratusan anak muda ini, digelar kolaboratif bersama Republika dan Universitas Islam Bandung atau Unisba, di Auditorium FEB Unisba, Kota Bandung.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman, yang hadir langsung sebagai pembicara kunci menegaskan, literasi keuangan adalah modal mutlak bagi anak muda. Hal ini penting agar mereka tidak terjebak dalam lingkaran setan pinjaman online ilegal maupun judi online.
Dalam arahannya, Darwisman mengingatkan para mahasiswa untuk selalu bersikap rasional dalam memanfaatkan layanan keuangan digital. Remaja masa kini dituntut harus mampu membedakan mana kebutuhan produktif dan mana yang sekadar keinginan konsumtif.
“Gunakan pinjaman hanya untuk kebutuhan yang produktif, seperti pendidikan atau pengembangan usaha, bukan untuk memenuhi gaya hidup sesaat yang berpotensi menimbulkan masalah keuangan. Pastikan setiap layanan keuangan yang digunakan memenuhi prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis. Legal berarti berizin dan diawasi OJK, sedangkan Logis berarti manfaat, keuntungan, dan risikonya dapat dipahami serta masuk akal,” kata Darwisman dalam keterangan tertulis yang diterima RRI, Selasa 2 Juli 2026.
Tingginya risiko digital ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan data serapan OJK per Desember 2025, angka outstanding pinjaman daring yang legal di Jawa Barat saja sudah menembus angka 23,94 triliun rupiah, dengan total penyerapan mencapai lebih dari 7,1 juta rekening.
Melihat besarnya angka perputaran uang digital tersebut, Rektor Unisba, Profesor Harits Nu’man, menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiasi OJK. Menurutnya, lingkungan kampus memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan agen perubahan yang bijak finansial.
“Mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam mengelola keuangan. Dengan literasi keuangan yang kuat, mereka dapat membangun masa depan yang lebih berdaya saing dan berkontribusi bagi bangsa,” ujar Harits Nu’man.
Selain bahaya pinjol ilegal, seminar ini juga menguliti berbagai modus kejahatan siber teranyar. Mulai dari ancaman judi online, investasi bodong, hingga fenomena penipuan bermodus asmara atau love scamming yang kerap mengincar psikologis korban.
Guna memberikan proteksi maksimal, pihak OJK bersama Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal atau Satgas PASTI, kini terus memperluas kanal aduan resmi melalui Indonesia Anti-Scam Centre. Langkah ini diharapkan mampu memutus rantai pergerakan para rentenir modern.
Sebagai penutup rangkaian edukasi, Darwisman kembali mengingatkan bahwa muara dari literasi finansial ini adalah kedisiplinan diri. Ketahanan keuangan yang kokoh di tingkat pemuda, diyakini menjadi pilar utama untuk menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....