Bandung Pionir Layanan Keuangan Inklusif, OJK Tutup Pelatihan Bisindo Frontliner

  • 18 Mei 2026 12:12 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Komitmen mewujudkan layanan keuangan inklusif bagi penyandang disabilitas terus diperkuat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat resmi menutup pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) bagi 38 frontliner dari 31 bank umum di Kota Bandung. Senin, 18 Mei 2026.

Kepala OJK Jawa Barat, Darwisman, menegaskan pelatihan yang berlangsung selama satu bulan ini merupakan bagian dari program Disabilitas Berdaya. Program tersebut diluncurkan bersama Wali Kota Bandung beberapa waktu lalu sebagai langkah membangun ekosistem keuangan yang ramah bagi semua kalangan.

“Ini bukan sekadar pelatihan teknis, tapi wujud komitmen besar agar layanan perbankan bisa dinikmati seluruh masyarakat, termasuk teman-teman difabel. Prinsipnya adalah kesetaraan pelayanan keuangan,” ujar Darwisman. Ia menambahkan, inklusi keuangan bukan karena belas kasihan, melainkan mandat undang-undang yang harus dijalankan industri jasa keuangan.

Darwisman menilai Bandung layak disebut pionir dalam membangun sistem keuangan inklusif. “Bandung paling siap dibanding daerah lain. Ini berdasarkan hasil survei. Kesiapan Bandung bersama Semarang dan Jogja,” jelasnya. Menurutnya, penutupan pelatihan ini hanyalah awal dari program yang lebih besar, termasuk pendampingan dan literasi keuangan bagi difabel.

Lebih jauh, OJK menargetkan sekitar satu juta masyarakat difabel di Kota Bandung kedepan dapat mengakses layanan keuangan secara setara. “Dengan literasi keuangan, mereka bisa mandiri secara ekonomi. Kami yakin di balik keterbatasan, Allah menitipkan kelebihan luar biasa yang bisa jadi inspirasi,” tambah Darwisman.

Sementara itu, Aprilia Pratiwi, Customer Service Bank Nobu yang menjadi peserta dalam Pelatihan Bisindo, mengaku pengalaman mengikuti pelatihan Bisindo sangat berharga. “Awalnya sulit, tapi karena saya tertarik sejak lama, akhirnya bisa. Ilmu ini pasti terpakai karena nasabah disabilitas pasti ada saja yang datang ke bank,” ungkapnya.

Aprilia menceritakan pengalamannya melayani nasabah difabel sebelum menguasai bahasa isyarat. “Waktu itu masih bingung, harus dibantu pendamping. Setelah ikut pelatihan, saya bisa lebih percaya diri. Bahkan saya langsung praktik dengan rekan kerja di bank,” katanya. Ia berharap pelatihan serupa bisa diperluas untuk melayani disabilitas lain, seperti tunanetra.

OJK memastikan para peserta pelatihan akan menjadi duta literasi keuangan di lingkungan perbankan. Meski tidak ada insentif khusus, Darwisman menegaskan apresiasi besar akan diberikan kepada bank yang konsisten menghadirkan layanan ramah disabilitas.

Dengan langkah ini, Bandung bukan hanya mencatat sejarah sebagai kota yang peduli inklusi, tetapi juga membuka jalan bagi transformasi layanan keuangan nasional yang lebih adil dan setara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....