Guilt Complex, ketika Rasa Bersalah Menjadi Berlebihan

  • 30 Sep 2026 16:37 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Menjelang Hari Kesehatan Mental Sedunia, perhatian terhadap kesehatan mental kembali menjadi penting. Peringatan tersebut berlangsung setiap 10 Oktober dan menjadi momentum meningkatkan kesadaran kesehatan mental.

Salah satu persoalan yang perlu dikenali adalah guilt complex atau rasa bersalah berlebihan. Kondisi ini membuat seseorang terus merasa bersalah, termasuk terhadap hal yang berada di luar tanggung jawabnya.

Rasa bersalah sebenarnya merupakan emosi yang wajar setelah seseorang melakukan kesalahan. Perasaan tersebut dapat mendorong seseorang meminta maaf, memperbaiki keadaan, dan belajar dari kesalahan.

Namun, rasa bersalah dapat menjadi persoalan ketika muncul berlebihan dan berlangsung terus-menerus. Alodokter menjelaskan, guilt complex dapat membuat seseorang merasa bersalah atas kejadian di luar kendalinya.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi pikiran dan aktivitas sehari-hari. Hello Sehat menyebut rasa bersalah yang berlebihan juga dapat memicu kecemasan, rasa malu, gangguan tidur, dan kesulitan berkonsentrasi.

Charlie Health membedakan rasa bersalah yang sehat dengan rasa bersalah yang tidak sehat. Rasa bersalah yang sehat dapat membantu seseorang bertanggung jawab dan memperbaiki perilakunya.

Sebaliknya, rasa bersalah menjadi tidak sehat ketika tidak sebanding dengan situasi yang terjadi. Seseorang dapat merasa bertanggung jawab terhadap sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendalinya.

Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain sering menyalahkan diri sendiri dan merasa semua kejadian menjadi tanggung jawab pribadi. Seseorang juga dapat mengalami kecemasan, rendah diri, menghindari situasi tertentu, hingga mengalami gangguan tidur.

Alodokter menyebut pengalaman masa kecil, tekanan sosial, gangguan kecemasan, dan trauma dapat berkontribusi terhadap kondisi tersebut. Pada orang yang mengalami trauma, dapat pula muncul survivor's guilt atau rasa bersalah karena dirinya selamat.

Untuk menghadapinya, seseorang perlu membedakan kesalahan yang menjadi tanggung jawabnya dan keadaan yang berada di luar kendali. Alodokter menyarankan mengenali pikiran negatif, menyelesaikan kesalahan yang nyata, berbicara dengan orang terpercaya, dan belajar memaafkan diri.

Charlie Health juga menyebut terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT) dapat membantu mengenali pola pikir negatif. Dukungan profesional dapat dipertimbangkan ketika rasa bersalah mulai mengganggu aktivitas atau kehidupan sehari-hari.

Rasa bersalah tidak selalu harus dihilangkan karena dapat menjadi bagian dari proses belajar dan bertanggung jawab. Namun, ketika perasaan tersebut menetap dan mengganggu kehidupan, bantuan psikolog atau psikiater dapat menjadi pilihan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....