Dinkes Kota Tasikmalaya Temukan 116 Kasus Baru HIV/AIDS
- 28 Sep 2026 21:00 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Tasikmalaya - Sepanjang kurun waktu Januari hingga Agustus 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tasikmalaya menemukan 116 kasus baru HIV/AIDS. Kasus baru ini, mayoritas ditemukan pada usia produktif didominasi laki-laki yang melakukan seks dengan laki-laki (LSL).
Sekretaris Dinkes Kota Tasikmalaya Suryaningsih mengatakan, data kasus HIV/AIDS tersebut, merupakan hasil skrining terhadap masyarakat berisiko tinggi.
“Hasil pemeriksaan tercatat 116 orang positif. Ini sudah tervalidasi secara nasional melalui Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA),” katanya, Senin 28 September 2026.
Meski terdapat temuan baru, tren kasus baru HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2022 tercatat 145 kasus, kemudian 145 kasus pada 2023, meningkat menjadi 169 kasus pada 2024, lalu turun menjadi 146 kasus pada 2025 dan 116 kasus hingga Agustus 2026.
Sementara itu, dari 116 kasus tersebut, 11 kasus berada pada rentang usia 11-20 tahun, 59 kasus usia 21-30 tahun, 28 kasus usia 31-41 tahun, 14 kasus usia 41-50 tahun, serta satu kasus pada kelompok usia 51-60 tahun.
Kelompok yang menjadi perhatian dalam upaya pencegahan HIV/AIDS antara lain LSL, waria, wanita pekerja seks (WPS), ibu hamil dan kelompok usia produktif yang memiliki faktor risiko.
Sementara itu, berdasarkan data kumulatif Dinkes Kota Tasikmalaya mencatat, kasus HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya sejak 2004 hingga 2026 mencapai 1.623 kasus. Dari jumlah tersebut, lebih dari 400 orang meninggal dunia.
“Mayoritas kasus terjadi pada laki-laki, ada 84 persen. Sedangkan perempuan 16 persen,” ujarnya.
Temuan kasus HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya tersebar di sejumlah wilayah. Jumlah terbanyak terdapat di wilayah Kecamatan Tawang sebanyak 200 kasus, Cihideung 195 kasus, Cipedes 160 kasus dan Kawalu 111 kasus.
“Penularan HIV/AIDS dapat terjadi melalui cairan tubuh, darah, air susu ibu, sperma dan cairan vagina. Pasien tetap dapat menjalani kehidupan normal dengan pengobatan antiretroviral (ARV) secara rutin dan seumur hidup,” katanya.
Saat ini kata dia, Dinkes terus jemput bola untuk menemukan kasus lebih dini sekaligus mendorong masyarakat berisiko agar melakukan pemeriksaan.”Penurunan angka tahunan memang menjadi kabar baik. Tetapi, dengan kasus baru, tentunya menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan,” ujarnya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....