TOGA Dorong Kemandirian Kesehatan Keluarga dan Bernilai Ekonomi
- 31 Jul 2026 03:51 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Tanaman Obat Keluarga (TOGA) kembali menjadi perhatian sebagai salah satu upaya memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga. Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat, pemanfaatan tanaman obat yang ditanam di pekarangan rumah dinilai mampu memberikan manfaat kesehatan, lingkungan, hingga ekonomi.
Kepala Pusat Standardisasi Instrumen Perkebunan Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri, dalam artikel berjudul "TOGA untuk Pangan, Kesehatan, dan Ekonomi Keluarga" yang dipublikasikan pada 31 Januari 2025, menjelaskan bahwa TOGA merupakan bagian dari pemanfaatan pekarangan yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Menurutnya, keberadaan TOGA tidak hanya berfungsi sebagai sumber tanaman obat, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Kuntoro menjelaskan bahwa pemanfaatan TOGA kini berkembang mengikuti kondisi masyarakat perkotaan. Apabila dahulu tanaman obat banyak ditanam di lahan yang luas, kini masyarakat dapat memanfaatkan metode vertikultur, rak bertingkat, maupun pot gantung sehingga keterbatasan lahan tidak lagi menjadi hambatan. Pendekatan tersebut dinilai efektif untuk mendorong masyarakat tetap dapat menanam berbagai tanaman obat di lingkungan rumah.
Sejumlah tanaman yang umum dibudidayakan sebagai TOGA antara lain jahe, kunyit, temulawak, kencur, serai, lengkuas, daun sirih, lidah buaya, sambiloto, meniran, dan kumis kucing. Tanaman-tanaman tersebut telah lama dimanfaatkan secara tradisional sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan. Namun demikian, penggunaannya tetap harus dilakukan secara bijak dan tidak menggantikan terapi medis yang telah direkomendasikan tenaga kesehatan.
Pemerintah juga terus meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan mengenai pemanfaatan TOGA. Melalui Direktorat Mutu Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan, pada 2025 diselenggarakan Massive Open Online Course (MOOC) Pemahaman dan Implementasi Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Pelatihan tersebut ditujukan bagi tenaga kesehatan di puskesmas agar mampu memahami konsep, implementasi, serta edukasi pemanfaatan TOGA kepada masyarakat secara tepat dan aman.
Selain mendukung kesehatan, TOGA juga memiliki nilai ekonomi. Berbagai hasil olahan seperti minuman herbal, simplisia kering, maupun bumbu rempah dapat menjadi produk usaha mikro apabila diolah sesuai standar keamanan pangan. Pengembangan TOGA bahkan menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah melalui program pemerintah maupun perguruan tinggi.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa tanaman obat tidak boleh digunakan secara sembarangan. Setiap tanaman memiliki kandungan senyawa aktif yang dapat berinteraksi dengan obat-obatan tertentu atau menimbulkan efek samping apabila dikonsumsi secara berlebihan. Oleh karena itu, masyarakat tetap dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, terutama bagi ibu hamil, lansia, penderita penyakit kronis, maupun mereka yang sedang menjalani pengobatan rutin.
Dengan kekayaan hayati yang dimiliki Indonesia, pemanfaatan TOGA menjadi salah satu langkah nyata dalam membangun keluarga yang lebih mandiri di bidang kesehatan. Jika dibudidayakan dan dimanfaatkan secara tepat, TOGA tidak hanya menjaga kesehatan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....