Ini Penjelasan Penggunaan MSG bagi Anak
- 30 Jul 2026 06:42 WIB
- Bandung
Poin Utama
- MSG masih sering menjadi bahan perdebatan di masyarakat meskipun anggapan negatifnya belum memiliki dasar ilmiah yang kuat.
- Dokter Spesialis Gizi Klinik dr. Diana Suganda menegaskan bahwa MSG aman dikonsumsi selama digunakan sesuai takaran yang dianjurkan dan menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang.
- Masyarakat diimbau lebih bijak dalam memahami informasi mengenai keamanan MSG dan tidak percaya begitu saja pada anggapan yang belum terbukti secara ilmiah.
RRI.CO.ID, Bandung: Monosodium glutamat (MSG) masih sering menjadi bahan perdebatan di tengah masyarakat. Banyak orang tua menganggap penyedap rasa tersebut dapat mengganggu kesehatan bahkan menurunkan kecerdasan anak. Padahal, anggapan tersebut belum memiliki dasar ilmiah yang kuat sehingga masyarakat diimbau lebih bijak dalam memahami informasi mengenai keamanan MSG.
Informasi tersebut disampaikan dr. Diana Suganda, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinik, dalam tayangan kanal YouTube Parentalk yang dipublikasikan pada 30 Juli 2026. Dalam diskusi tersebut, ia menjelaskan penggunaan MSG tetap aman dikonsumsi selama digunakan sesuai takaran yang dianjurkan dan menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Menurut dr. Diana, berbagai anggapan yang menyebut MSG dapat menurunkan konsentrasi maupun kecerdasan anak hingga kini belum didukung oleh bukti ilmiah yang meyakinkan. Ia mengimbau masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang beredar tanpa mengacu pada sumber ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
| Baca juga: Sederet Manfaat Daun Pandan untuk Kesehatan |
"Penggunaan MSG sebenarnya aman jika dikonsumsi sesuai takaran. Sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa MSG menyebabkan anak menjadi kurang fokus atau menurunkan kecerdasannya," ujar dr. Diana.
Ia menjelaskan, monosodium glutamat merupakan senyawa yang berasal dari tetes tebu dan mengandung asam glutamat. Zat tersebut sebenarnya juga ditemukan secara alami pada berbagai bahan pangan, seperti tomat, keju, daging, hingga air susu ibu (ASI), sehingga tubuh manusia telah mengenalnya sejak dini.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada penggunaan MSG, melainkan pada pola konsumsi makanan secara keseluruhan. Orang tua sebaiknya lebih fokus menyusun menu yang bergizi lengkap dibandingkan menghindari penyedap rasa tanpa alasan ilmiah yang jelas.
Dalam kesempatan itu, dr. Diana juga mengingatkan masyarakat mengenai fenomena hidden hunger atau kelaparan tersembunyi. Kondisi ini terjadi ketika seseorang merasa kenyang karena cukup mengonsumsi karbohidrat, tetapi tubuh sebenarnya mengalami kekurangan vitamin, mineral, maupun mikronutrien penting lainnya.
Ia mengatakan kondisi tersebut sering tidak disadari karena seseorang tampak sehat dan memiliki berat badan normal. Padahal, kekurangan zat gizi mikro dalam jangka panjang dapat memengaruhi pertumbuhan, daya tahan tubuh, hingga perkembangan anak.
Untuk mencegah hidden hunger, dr. Diana menganjurkan keluarga menerapkan pola makan yang bervariasi dengan memenuhi kebutuhan protein, vitamin, dan mineral setiap hari. Salah satu cara sederhana ialah menerapkan konsep "makan pelangi", yakni mengonsumsi aneka bahan makanan dengan sedikitnya lima warna berbeda dalam sehari agar kebutuhan mikronutrien lebih beragam.
Menurutnya, penggunaan MSG dalam jumlah yang tepat justru dapat membantu meningkatkan cita rasa makanan sehingga anak lebih tertarik mengonsumsi sayur maupun lauk yang bergizi. Dengan demikian, penyedap rasa dapat dimanfaatkan sebagai pelengkap, bukan pengganti kualitas bahan makanan.
Selain memilih bahan pangan yang beragam, dr. Diana juga menekankan pentingnya memperhatikan teknik memasak. Ia menjelaskan proses memasak dengan suhu terlalu tinggi atau terlalu lama, seperti deep frying, berpotensi menurunkan kualitas protein sekaligus meningkatkan kandungan lemak pada makanan.
Sebagai alternatif, ia menyarankan metode memasak yang lebih sehat seperti merebus, mengukus, atau menumis dalam waktu singkat agar kandungan vitamin, mineral, dan nutrisi penting tetap terjaga.
Ia menambahkan, keberhasilan memenuhi kebutuhan gizi keluarga sangat bergantung pada peran orang tua dalam membangun kebiasaan makan sehat sejak dini. Edukasi mengenai gizi yang benar dinilai menjadi bekal penting agar keluarga tidak mudah terpengaruh berbagai mitos yang belum terbukti secara ilmiah.
"Kalau anak mulai menunjukkan tanda-tanda kekurangan gizi atau mengalami gangguan tumbuh kembang, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis agar mendapatkan penanganan yang tepat," kata dr. Diana.
Melalui edukasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa penggunaan MSG secara bijak bukanlah ancaman bagi kesehatan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap anggota keluarga memperoleh asupan gizi makro dan mikro yang seimbang, sehingga risiko hidden hunger dapat dicegah sejak dini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....