ketika pencapaian orang lain menjadi tolak ukur untuk diri sendiri
- 29 Jul 2026 16:53 WIB
- Bandung
Poin Utama
- Social comparison adalah kecenderungan alami manusia untuk membandingkan dirinya dengan orang lain sebagai cara mengevaluasi kemampuan, pencapaian, dan posisinya di lingkungan sosial.
- Media sosial memperkuat fenomena social comparison karena setiap hari kita dihadapkan dengan pencapaian orang-orang di sekitar kita, mulai dari magang di perusahaan bergengsi hingga prestasi kompetisi nasional.
- Perbandingan sosial tidak selalu berdampak negatif; dalam situasi tertentu dapat menjadi sumber motivasi untuk berkembang atau menjadi bahan refleksi atas kemampuan diri sendiri.
RRI.CO.ID,Bandung - Setiap kali kita membuka media sosial, selalu ada seseorang yang lebih dulu sampai di garis akhir. Ada yang baru diterima program magang di perusahaan bergengsi, lolos pertukaran pelajar ke luar negeri, atau memenangkan kompetisi nasional. Di tengah pencapaian orang-orang tersebut, tanpa disadari kita mulai mempertanyakan “Mengapa mereka sudah sejauh itu, tapi aku masih seperti ini saja? Apakah aku sudah melakukan cukup banyak?”
Fenomena seperti ini dalam psikologi dikenal sebagai social comparison. Manusia memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan dirinya dengan orang lain sebagai cara mengevaluasi kemampuan, pencapaian, maupun posisinya di lingkungan sosial. Perbandingan ini tidak selalu berdampak buruk. Dalam situasi tertentu, membandingkan diri dengan orang lain dapat menjadi sumber motivasi untuk berkembang atau menjadi bahan refleksi atas kemampuan diri.
Namun, yang menjadi masalah adalah perkembangan media sosial membuat proses membandingkan diri berlangsung jauh lebih intens. Jika dahulu kita membandingkan diri dengan keluarga, tetangga, atau teman dekat, kini kita dapat membandingkan hidup dengan puluhan bahkan ratusan orang hanya dalam beberapa menit. Akibatnya perasaan tertinggal menjadi semakin mudah muncul. Kita mulai bertanya mengapa hidup orang lain tampak berjalan dengan sangat baik dan cepat, sementara hidup sendiri terasa begini-gini saja dan lambat.
Di sini lah filsafat mengajak kita mempertanyakan sesuatu yang lebih dasar, apa yang sebenarnya tersisa dari diri kita jika setiap jengkal kesuksesan selalu diukur dari pencapaian orang lain?
Hal ini membawa kita kembali pada pemikiran Søren Kierkegaard. Baginya, bahaya terbesar dalam hidup bukanlah kegagalan, melainkan kehilangan diri sendiri. Menariknya, kehilangan diri sendiri tidak selalu terjadi karena kita melewati tragedi besar, tetapi bisa perlahan tanpa disadari ketika kita menjalani hidup berdasarkan standar yang ditentukan oleh orang lain.
Dalam konteks social comparison, gagasan Kierkegaard terasa begitu relevan. Ketika kita terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, kita tidak lagi sibuk mencari jati diri lewat pertanyaan “Aku ingin jadi apa?” perlahan berubah menjadi, “bagaimana caranya agar hidupku bisa seperti mereka?” Hidup kita menjadi sibuk untuk mengejar kehidupan yang tampak ideal di mata orang lain.
| Baca juga: Ini Penjelasan Penggunaan MSG bagi Anak |
Tanpa sadar, kita mulai menyusun tujuan hidup berdasarkan apa yang sedang dihargai oleh lingkungan. Kita tidak lagi bertanya apa yang benar-benar ingin kita capai, melainkan apa yang perlu dicapai agar tidak tertinggal dari orang lain. Tujuan hidup kita pun bergeser dari hasil refleksi pribadi menjadi respons terhadap ekspektasi dan pengakuan sosial. Persoalannya bukan terletak pada pencapaian itu sendiri, tetapi pada hilangnya kesempatan untuk mempertanyakan apakah tujuan tersebut benar-benar lahir dari pilihan kita sendiri.
Jika Kierkegaard mengingatkan kita akan bahaya kehilangan diri sendiri, Nietzsche mengajak kita mempertanyakan ukuran-ukuran yang selama ini kita gunakan untuk menilai keberhasilan. Nietzsche mengkritik kecenderungan manusia menerima nilai-nilai masyarakat tanpa pernah mempertanyakan asal-usulnya. Kita sering menganggap sesuatu bernilai hanya karena masyarakat lebih dahulu menganggapnya demikian. Magang di perusahaan ternama, mengikuti program internasional, atau pengakuan sosial menjadi simbol keberhasilan bukan karena nilainya bersifat mutlak, melainkan karena budaya telah mengajarkan kita untuk memandangnya demikian.
Bagi banyak mahasiswa, standar keberhasilan itu perlahan diterima sebagai sesuatu yang seolah-olah bersifat universal. Kita melihat hal ini sebagai tolak ukur untuk menilai posisi diri sendiri. Yang sebenarnya kita bandingkan bukan hanya prestasi mereka, tetapi juga nilai-nilai yang telah diletakan masyarakat pada prestasi tersebut. Di sinilah social comparison tidak lagi sekedar menjadi kecenderungan psikologis, melainkan juga persoalan filosofis tentang bagaimana kita menerima ukuran keberhasilan tanpa pernah memilihnya secara sadar. Selama standar keberhasilan selalu datang dari luar diri, akan selalu ada seseorang yang tampak lebih berhasil, lebih kaya, lebih pintar, atau lebih bahagia.
Barangkali kita memang tidak akan pernah sepenuhnya berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Dalam ilmu psikologi mungkin menunjukkan bahwa kecenderungan itu merupakan bagian dari cara manusia memahami dirinya. Namun filsafat mengingatkan bahwa hidup yang baik tidak ditentukan oleh seberapa dekat kita dengan kehidupan orang lain, melainkan oleh seberapa jujur kita menjalani kehidupan yang benar-benar kita pilih. Karena ketika ukuran hidup terus berasal dari luar diri sendiri, yang perlahan menghilang bukan hanya rasa percaya diri, melainkan juga keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Sabrina Raissa, Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....