Penderita Kolesterol Tetap Boleh All You Can Eat, Ini Penjelasannya
- 24 Jul 2026 20:15 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung: Penderita kolesterol tinggi tetap dapat menikmati hidangan di restoran all you can eat selama mampu memilih jenis makanan yang tepat, membatasi porsi, serta menerapkan pola makan seimbang untuk mengurangi risiko peningkatan kadar kolesterol dan penyakit kardiovaskular.
Informasi tersebut disampaikan dokter Gammarida dalam tayangan kanal YouTube Kata Dokter yang dipublikasikan pada 20 Juli 2026. Dalam edukasi kesehatan itu dijelaskan bahwa konsep all you can eat bukan penyebab utama meningkatnya kolesterol, melainkan pilihan makanan dan jumlah konsumsi yang menentukan dampaknya terhadap kesehatan.
dr. Gammarida menjelaskan kolesterol sebenarnya dibutuhkan tubuh untuk membantu pembentukan hormon, vitamin D, serta struktur sel. Namun, kadar kolesterol low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat yang berlebihan dapat menumpuk di dinding pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
"Penyebab yang paling sering karena pola makan yang kurang sehat seperti terlalu sering makan gorengan, makanan cepat saji, jeroan, dan daging yang memiliki lemak tinggi," ujar dr. Gammarida. Ia menambahkan kurangnya aktivitas fisik, kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, diabetes, serta faktor genetik turut meningkatkan risiko terjadinya kolesterol tinggi.
Menurutnya, kolesterol tinggi umumnya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal sehingga banyak penderita tidak menyadari kondisinya. Oleh karena itu, pemeriksaan profil lipid secara berkala menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui kadar kolesterol sebelum muncul komplikasi seperti serangan jantung maupun stroke.
Terkait restoran all you can eat, dr. Gammarida mengimbau masyarakat membatasi konsumsi daging berlemak tinggi seperti brisket, short plate, wagyu dengan marbling tinggi, kulit ayam, jeroan, makanan yang digoreng, serta produk olahan seperti sosis dan nugget karena mengandung lemak jenuh dan garam yang relatif tinggi.
Ia menyarankan pengunjung memulai santapan dengan sayuran, salad, atau buah, kemudian memilih potongan daging rendah lemak maupun ikan dan makanan laut sebagai sumber protein. Selain itu, makanan sebaiknya dikonsumsi secara perlahan serta berhenti sebelum merasa terlalu kenyang agar asupan kalori dan lemak tetap terkendali.
"Satu atau dua kali makan all you can eat tidak serta-merta membuat kolesterol langsung melonjak atau menyebabkan serangan jantung mendadak. Tetapi pola makan berlebihan yang dilakukan terus-menerus dapat meningkatkan risiko dislipidemia dan penyakit kardiovaskular," kata dr. Gammarida.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan penderita diabetes tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan metabolisme lemak atau dislipidemia diabetik. Kondisi tersebut ditandai meningkatnya kadar trigliserida, menurunnya kadar HDL atau kolesterol baik, serta perubahan struktur LDL sehingga lebih mudah menempel pada dinding pembuluh darah.
Selain itu, dr. Gammarida meluruskan anggapan bahwa minum air jeruk dapat langsung menghilangkan kolesterol setelah mengonsumsi makanan berlemak. Menurutnya, hingga kini belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan vitamin C mampu melarutkan kolesterol di dalam pembuluh darah secara langsung. Penurunan kolesterol tetap bergantung pada pola makan sehat, aktivitas fisik, serta terapi medis bila diperlukan.
Ia juga mengingatkan pasien yang menjalani terapi statin agar tidak menghentikan obat secara mandiri meskipun kadar kolesterol telah membaik. Penghentian tanpa konsultasi dokter dapat menyebabkan kadar LDL kembali meningkat dan memperbesar risiko penyumbatan pembuluh darah, terutama pada pasien dengan riwayat penyakit jantung koroner atau stroke.
Sejalan dengan penjelasan tersebut, berbagai pedoman kedokteran menyebutkan perubahan gaya hidup tetap menjadi langkah utama dalam pengendalian kolesterol. Pola makan rendah lemak jenuh, memperbanyak konsumsi sayur, buah, kacang-kacangan, ikan yang kaya omega-3, menjaga berat badan ideal, menghindari rokok, serta rutin berolahraga merupakan upaya penting untuk menekan risiko penyakit kardiovaskular.
Menutup edukasinya, dr. Gammarida mengajak masyarakat tidak menunggu munculnya keluhan sebelum memeriksakan kadar kolesterol. Ia menyarankan pemeriksaan profil lipid dilakukan secara rutin sedikitnya setiap enam bulan sekali, terutama bagi individu yang memiliki faktor risiko, agar pencegahan dan penanganan dapat dilakukan lebih dini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....