Kenali Epilepsi dan Kejang yang Bisa Dikendalikan
- 30 Jun 2026 22:51 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung: Epilepsi atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai ayan merupakan gangguan saraf kronis yang ditandai dengan kejang berulang akibat aktivitas listrik abnormal di otak. Meski belum dapat disembuhkan sepenuhnya, penyakit ini dapat dikendalikan melalui pengobatan yang tepat, penghindaran faktor pemicu, serta penerapan gaya hidup sehat.
Dokter Gammarida Magfirah menjelaskan dalam kanal youtube kata dokter, epilepsi terjadi ketika aktivitas sel-sel saraf di otak mengalami gangguan sehingga menghasilkan impuls listrik secara berlebihan. Kondisi tersebut menyebabkan gerakan tubuh, perilaku, maupun kesadaran penderitanya terganggu secara tiba-tiba.
"Pada otak terdapat jutaan neuron atau sel saraf yang saling berhubungan melalui sinyal listrik. Ketika aktivitas listrik itu menjadi tidak normal, maka akan muncul kejang," jelas dr. Gammarida Magfirah dalam kanal YouTube Kata Dokter yang tayang pada 24 Juni 2026.
Menurutnya, epilepsi dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia. Gejalanya pun berbeda-beda, tergantung bagian otak yang mengalami gangguan. Pada kejang parsial, gangguan hanya terjadi di sebagian otak sehingga penderita masih dalam kondisi sadar. Gejalanya dapat berupa hentakan berulang pada anggota tubuh tertentu, kesemutan, pusing, hingga sensasi melihat kilatan cahaya.
Sementara pada kejang umum atau total, aktivitas listrik abnormal melibatkan seluruh bagian otak. Kondisi ini umumnya disertai penurunan kesadaran, tubuh menjadi kaku, gerakan menghentak berulang, otot tiba-tiba lemas hingga penderita terjatuh, bahkan kesulitan bernapas dalam beberapa saat.
Dr. Gammarida mengingatkan, kejang yang muncul secara tiba-tiba dapat membahayakan keselamatan penderita. Risiko cedera meningkat apabila kejang terjadi saat mengemudi, berenang, bekerja di tempat tinggi, maupun melakukan aktivitas lain yang membutuhkan konsentrasi penuh.
Selain membahayakan fisik, penderita epilepsi juga berisiko mengalami gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, hingga menurunnya rasa percaya diri. Oleh karena itu, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kualitas hidup penderita.
Pada kasus tertentu, epilepsi dapat berkembang menjadi status epileptikus, yakni kejang berkepanjangan atau berulang tanpa pemulihan kesadaran. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis karena berisiko menyebabkan kerusakan otak permanen, henti napas, henti jantung, bahkan kematian apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, masyarakat perlu mengetahui langkah pertolongan pertama saat menjumpai penderita epilepsi mengalami kejang. Hal utama yang harus dilakukan adalah tetap tenang, menjauhkan penderita dari benda-benda berbahaya, kemudian memiringkan posisi tubuh agar jalan napas tetap terbuka dan air liur tidak menyumbat saluran pernapasan. Setelah itu segera meminta bantuan tenaga medis, terutama jika kejang berlangsung lama.
Untuk mengurangi risiko kekambuhan, penderita dianjurkan menghindari berbagai faktor pemicu, seperti kurang tidur, kelelahan, stres, dehidrasi, konsumsi alkohol, kafein berlebihan, serta paparan kilatan cahaya yang dapat memicu kejang pada sebagian penderita. Aktivitas mengemudi juga sebaiknya dilakukan setelah mendapatkan izin dari dokter.
Pengobatan epilepsi umumnya menggunakan obat antikejang, seperti fenitoin, karbamazepin, asam valproat, maupun diazepam, yang harus dikonsumsi sesuai dosis dan anjuran dokter. Pemilihan obat disesuaikan dengan jenis kejang, usia pasien, kondisi kesehatan, serta penyebab yang mendasari gangguan tersebut.
Dr. Gammarida menegaskan, kepatuhan menjalani terapi menjadi kunci utama pengendalian epilepsi. Selain rutin mengonsumsi obat, penderita juga dianjurkan menjaga pola hidup sehat, mengelola stres, menghindari cedera kepala, serta tidak menggunakan obat-obatan maupun narkotika tanpa pengawasan medis.
Meski merupakan penyakit kronis, epilepsi bukan berarti menghalangi seseorang untuk menjalani kehidupan secara produktif. Dengan pengobatan yang tepat, kontrol rutin, serta dukungan lingkungan, sebagian besar penderita mampu mengendalikan frekuensi kejang dan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....