Hati-hati Sering Kentut? Kenali Penyebab dan Cara Mencegahnya

  • 28 Jun 2026 11:52 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Kentut merupakan proses alami tubuh untuk mengeluarkan gas yang menumpuk di dalam saluran pencernaan. Meski normal, frekuensi kentut yang terlalu sering dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan menimbulkan rasa malu saat terjadi di tempat umum karena kerap dianggap tidak sopan.

Gas dalam saluran pencernaan umumnya terbentuk akibat proses pencernaan makanan, aktivitas bakteri baik di usus, maupun udara yang ikut tertelan saat makan atau minum.

Dikutip dari laman Alodokter, jika gas tidak dikeluarkan melalui kentut atau sendawa, seseorang justru berisiko mengalami keluhan seperti perut kembung dan rasa tidak nyaman.

Dalam kondisi normal, seseorang dapat kentut sekitar 10–20 kali setiap hari. Namun, jika frekuensinya melebihi 20 kali sehari dan disertai keluhan lain, kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang perlu diperiksakan ke dokter.

Penyebab Sering Kentut

1. Aktivitas Bakteri di Usus

Bakteri baik di dalam usus berperan menguraikan sisa makanan yang belum tercerna sempurna. Proses ini menghasilkan gas yang kemudian dikeluarkan melalui kentut.

2. Terlalu Banyak Menelan Udara

Udara dapat ikut masuk ke saluran pencernaan saat makan terlalu cepat, minum menggunakan sedotan, mengunyah permen karet, atau merokok. Penumpukan udara tersebut membuat seseorang lebih sering buang angin.

3. Proses Pencernaan Makanan

Setiap makanan yang dikonsumsi akan dipecah menjadi zat gizi dan energi. Selama proses tersebut, gas terbentuk sebagai bagian dari mekanisme alami tubuh sehingga kentut menjadi tanda bahwa sistem pencernaan bekerja dengan baik.

4. Gangguan atau Penyakit Tertentu

Dalam beberapa kasus, sering kentut dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu, di antaranya:

Diabetes

Gangguan makan

Penyakit radang usus

Sindrom iritasi usus (IBS)

Gangguan lambung, seperti GERD dan gastroparesis

Penyakit celiac

Penyakit Crohn

Intoleransi laktosa

Kolitis ulseratif

Makanan yang Memicu Produksi Gas Berlebih

Selain dipengaruhi kondisi kesehatan, frekuensi kentut juga dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi. Beberapa makanan lebih sulit dicerna sehingga menghasilkan gas lebih banyak.

Makanan Tinggi Gula

Gula seperti laktosa, sorbitol, dan fruktosa relatif sulit diserap tubuh. Sisa gula kemudian difermentasi oleh bakteri usus sehingga menghasilkan gas dalam jumlah lebih banyak.

Makanan Tinggi Karbohidrat

Roti, sereal, jagung, ubi, kentang, dan pasta merupakan sumber karbohidrat yang dapat meningkatkan produksi gas saat dicerna. Berbeda dengan makanan tersebut, nasi umumnya tidak menyebabkan gas berlebih meski sama-sama tinggi karbohidrat.

Minuman Bersoda dan Beralkohol

Minuman bersoda maupun beralkohol mengandung gelembung udara yang dapat meningkatkan jumlah udara yang masuk ke saluran pencernaan. Akibatnya, tubuh menjadi lebih sering mengeluarkan gas.

Produk Olahan Susu

Susu dan produk turunannya mengandung laktosa. Pada orang yang kekurangan enzim laktase atau mengalami intoleransi laktosa, konsumsi produk susu dapat memicu perut kembung dan kentut lebih sering.

Sayuran, Buah, dan Kacang-kacangan

Beberapa jenis makanan juga dikenal menghasilkan lebih banyak gas saat dicerna, seperti:

Kacang-kacangan, misalnya buncis dan kacang polong.

Sayuran, seperti brokoli, kubis, kembang kol, asparagus, bawang bombai, dan seledri.

Buah-buahan, seperti apel, mangga, jeruk, semangka, persik, dan pir.

Sering kentut umumnya bukan kondisi yang berbahaya. Namun, jika disertai gejala lain seperti nyeri perut hebat, diare berkepanjangan, sembelit, berat badan menurun tanpa sebab, muntah, atau terdapat darah pada tinja, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah keluhan tersebut disebabkan oleh gangguan pencernaan atau penyakit tertentu.

Menjaga pola makan, mengurangi konsumsi makanan pemicu gas, makan secara perlahan, serta menerapkan gaya hidup sehat dapat membantu mengurangi frekuensi kentut. Jika keluhan terus berlanjut atau semakin sering terjadi, pemeriksaan medis merupakan langkah terbaik untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....