Dinkes Bandung Imbau Warga Waspadai Hantavirus tanpa Panik
- 21 Mei 2026 13:59 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Munculnya kasus virus hanta di sejumlah negara memicu kekhawatiran masyarakat, terutama setelah pandemi Covid-19 yang masih menyisakan trauma terhadap penyakit menular. Menanggapi hal tersebut, Dinas Kesehatan Kota Bandung mengimbau masyarakat agar tetap tenang serta memahami karakteristik hantavirus secara tepat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih, menegaskan bahwa hantavirus berbeda dengan Covid-19. Menurutnya, virus ini bukan merupakan penyakit baru karena telah lama dikenal dalam dunia medis dan termasuk dalam kelompok orthohantavirus.
“Kalau Covid dulu merupakan virus baru yang langsung menyebar luas antar manusia. Sedangkan hantavirus ini penularannya lebih banyak dari tikus ke manusia,” ujar Dadan, Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan, penularan hantavirus umumnya berasal dari hewan pengerat seperti tikus melalui air liur, urine, maupun kotorannya. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui saluran pernapasan ataupun pencernaan, terutama ketika seseorang terpapar lingkungan yang telah terkontaminasi.
Menurut Dadan, gejala hantavirus sekilas menyerupai infeksi virus lain, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, hingga tubuh terasa lemas. Namun secara global, hantavirus memiliki dua gambaran klinis utama yang berbeda di tiap wilayah dunia.
Di kawasan Asia dan Eropa, hantavirus lebih banyak menyerang ginjal dan dapat menyebabkan gangguan ginjal berat hingga gagal ginjal. Sementara di wilayah Amerika, virus ini lebih dominan menyerang paru-paru dan memicu gangguan pernapasan serius seperti sesak napas serta radang paru.
“Perbedaan gejala ini dipengaruhi oleh jenis tikus dan strain virus yang berbeda di tiap wilayah,” jelasnya.
Dadan menuturkan, keberadaan tikus di lingkungan sehari-hari memang perlu diwaspadai. Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik dan lebih fokus pada langkah pencegahan sederhana melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat.
Ia mengingatkan warga agar tidak mengonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi tikus, baik karena tergigit, terkena air kencing, maupun kotorannya.
“Virus ini bisa masuk lewat saluran pernapasan maupun pencernaan. Jadi kalau ada makanan yang sudah terkena tikus, sebaiknya jangan dimakan,” katanya.
Berbeda dengan Covid-19, hingga saat ini penularan hantavirus dari manusia ke manusia belum ditemukan. Karena itu, investigasi kasus lebih difokuskan pada pencarian sumber penularan dari lingkungan, khususnya keberadaan tikus.
Dinas Kesehatan Kota Bandung sendiri telah memiliki sistem pemantauan atau sentinel untuk penyakit zoonosis seperti leptospirosis dan hantavirus yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Hasan Sadikin. Pasien dengan gejala yang mengarah pada infeksi tersebut akan menjalani pemeriksaan lanjutan guna memastikan diagnosis.
Selain pemeriksaan pasien, tim surveilans Dinkes Kota Bandung juga melakukan pelacakan lingkungan untuk mencari kemungkinan sumber penularan, termasuk pemeriksaan tikus di sekitar lokasi pasien.
Meski demikian, Dadan memastikan hingga pemantauan terakhir sejak 2025, hasil pengawasan terhadap tikus di Kota Bandung masih menunjukkan hasil negatif hantavirus.
“Sejauh ini pemantauan tikus yang kami lakukan masih negatif hantavirus. Tapi tentu pengawasan tetap dilakukan karena kemungkinan tikus pembawa virus tidak tertangkap tetap ada,” ucapnya.
Dinas Kesehatan Kota Bandung pun mengimbau masyarakat untuk terus menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya, serta memastikan makanan dan peralatan makan tetap higienis, terutama saat makan di luar rumah.
“Pada prinsipnya, rumah yang bersih dan bebas tikus dapat membantu mencegah berbagai penyakit yang ditularkan hewan pengerat, termasuk hantavirus dan leptospirosis,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....