Pemkot Bandung Menilai Primaya Rajawali Dorong Layanan Kesehatan Inklusif

  • 15 Apr 2026 11:22 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Layanan kesehatan di Kota Bandung tidak hanya bergantung pada fasilitas yang dibangun dan dioperasikan pemerintah, tetapi juga diperkuat oleh peran lembaga masyarakat dan sektor swasta. Hal ini ditegaskan dalam peresmian transformasi RS Rajawali menjadi Primaya Rajawali Hospital di Jalan Rajawali Barat, Kecamatan Andir, Rabu 15 April 2026.

‎Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyebut transformasi ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Kota Bandung. Ia menekankan tantangan utama ke depan adalah memastikan layanan rumah sakit dapat terintegrasi dengan program BPJS Kesehatan.

‎“Ini salah satu tantangan kita adalah memastikan layanan kesehatan ini bisa terhubung dengan BPJS. Karena seleksinya cukup ketat, kita perlu mendorong bersama agar bisa terakomodasi,” ujarnya usai menghadiri grand opening, rabu 15 April 2026.

‎Farhan menjelaskan, kolaborasi antara berbagai pihak dalam pengelolaan rumah sakit menjadi kunci peningkatan mutu layanan. Ia mencontohkan RS Rajawali yang kini tidak hanya dikelola yayasan, tetapi juga melibatkan jaringan rumah sakit swasta.

‎“Kolaborasi ini saya harapkan dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat,” katanya.


‎Selain itu, Farhan menegaskan seluruh fasilitas layanan kesehatan (yankes) di Kota Bandung wajib menerima pasien, terutama dalam kondisi darurat. Ia mengingatkan tidak boleh ada penolakan pasien dalam situasi apapun.

‎“Semua pasien dalam keadaan darurat harus diterima dan diberikan penanganan sampai stabil. Tidak boleh ada yankes yang menolak pasien,” tegasnya.

‎Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kualitas pelayanan dan keselamatan pasien. Farhan bahkan menegaskan akan mengambil tindakan tegas terhadap pimpinan rumah sakit jika terjadi kasus serius seperti kelalaian fatal atau pelanggaran etik.

‎Sementara itu, CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, menyampaikan transformasi ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas akses layanan kesehatan berkualitas dan inklusif di Jawa Barat, khususnya Kota Bandung.

‎“Kami tidak hanya mengubah nama, tetapi juga mengembangkan layanan unggulan dengan peningkatan menyeluruh pada sistem, teknologi, dan standar klinis,” ucapnya.


‎Dari sisi fasilitas, Primaya Rajawali Hospital kini memiliki 20 poliklinik dengan kapasitas 102 tempat tidur. Rumah sakit ini juga dilengkapi layanan intensif seperti ICU, NICU, PICU, dan HCU, serta didukung oleh 36 dokter spesialis dan subspesialis.

‎Teknologi medis modern seperti endoskopi juga tersedia untuk menunjang diagnosis yang lebih akurat, termasuk pengembangan layanan bedah minimal invasif dan diagnostik lanjutan.

‎Sedangkan, Direktur Primaya Rajawali Hospital, Budiyanto, menambahkan transformasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sistem layanan hingga pengalaman pasien.

‎“Kami mengimplementasikan digitalisasi melalui Electronic Medical Record, standardisasi clinical pathway berbasis evidence, serta penguatan budaya patient-centered care,” jelasnya.

‎Ia juga menyebut kehadiran aplikasi digital dan sistem rujukan internal antar jaringan Primaya memungkinkan pasien mendapatkan second opinion tanpa harus berpindah fasilitas.

‎" Dengan transformasi ini, diharapkan layanan kesehatan di Kota Bandung semakin merata, modern, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara optimal," tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....