Mengapa Overthinking Bisa Berbahaya!

  • 31 Mar 2026 22:01 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung: Fenomena overthinking kerap dianggap sebagai hal biasa dalam kehidupan sehari-hari, padahal kondisi ini dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental, fisik, hingga kualitas hubungan sosial seseorang. Overthinking bukan sekadar berpikir berlebihan, melainkan pola mental yang membuat seseorang terus-menerus terjebak dalam kekhawatiran tanpa ujung.

Dilansir dari kanal YouTube Lensa Psikologi, overthinking terjadi ketika pikiran terus memutar ulang kejadian masa lalu atau menciptakan skenario terburuk tentang masa depan secara berlebihan. Kondisi ini membuat seseorang kehilangan energi, sulit mengambil keputusan, bahkan menghambat produktivitas. “Overthinking itu seperti terjebak dalam labirin pikiran sendiri,” ungkap narasumber dalam tayangan tersebut.

Secara psikologis, overthinking terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu ruminasi yang berfokus pada penyesalan masa lalu, serta kekhawatiran kronis yang berkaitan dengan ketakutan berlebihan terhadap masa depan. Kondisi ini juga dipengaruhi aktivitas otak pada bagian default mode network yang cenderung lebih aktif pada individu dengan kecenderungan overthinking.

Selain berdampak pada mental, overthinking juga berpengaruh pada kondisi fisik. Stres berkepanjangan akibat pikiran berlebihan dapat meningkatkan hormon kortisol yang memicu gangguan kesehatan seperti sakit kepala, masalah pencernaan, hingga penurunan sistem kekebalan tubuh. “Kalau pikiran terus bekerja tanpa henti, kualitas hidup kita akan terkikis perlahan,” kata narasumber.

Dalam kehidupan sosial, overthinking membuat seseorang lebih mudah menarik diri, sulit mempercayai orang lain, hingga rentan salah paham dalam hubungan. Hal ini berujung pada menurunnya kualitas interaksi dan produktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut sering disebut sebagai “analysis paralysis” atau kelumpuhan akibat terlalu banyak berpikir tanpa tindakan nyata.

Untuk mengatasi overthinking, terdapat beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah teknik pernapasan sadar untuk menenangkan sistem saraf, serta metode STOP (Stop, Take a Breath, Observe, Proceed) untuk menghentikan alur pikiran negatif. Selain itu, mengalihkan fokus ke aktivitas positif juga dinilai efektif dalam mengurangi tekanan mental.

Langkah jangka panjang juga diperlukan untuk membangun ketahanan mental. Di antaranya dengan mengenali pemicu overthinking, menulis jurnal untuk mengurai pikiran, menerapkan self-compassion, hingga menjaga pola hidup sehat seperti tidur cukup dan olahraga teratur. “Perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang konsisten,” ujar narasumber.

Jika overthinking sudah mengganggu aktivitas harian hingga memicu kecemasan berat atau depresi, masyarakat disarankan untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater. Penanganan yang tepat dapat membantu mengubah pola pikir negatif menjadi lebih sehat dan seimbang.

Dengan memahami overthinking secara lebih mendalam, masyarakat diharapkan mampu mengelola pikiran dengan lebih baik dan tidak terjebak dalam siklus kekhawatiran yang berkepanjangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....