Perspektif dan Fakta Dampak Media Sosial pada Remaja
- 29 Mar 2026 14:42 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja di Indonesia. Dengan penetrasi internet yang terus meningkat, ruang digital menjadi arena utama interaksi sosial, pembelajaran, dan ekspresi diri.
Namun, di balik manfaatnya, media sosial juga membawa dampak yang perlu diperhatikan secara serius. Menurut survei APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) 2025, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 229,4 juta jiwa dengan penetrasi 80,66% dari total populasi.
Mayoritas pengguna aktif adalah generasi muda yang menghabiskan waktu signifikan di platform media sosial. Menurut Dr. Rina Kartika, M.Si. (Dosen Komunikasi Unpad) 20 Maret 2026 menyatakan "Media sosial memberi peluang besar untuk personal branding, tapi literasi digital mutlak diperlukan agar tidak terjebak citra semu."
Pendapat Ziadatul Hikmiah, S.Pd., S.Psi., M.Sc., seorang pakar psikologi dari Universitas Brawijaya (UB) pada 16 Maret 2026 menyatakan "Media sosial bisa memicu tekanan sosial yang berdampak pada kesehatan mental generasi muda."
Sementara menurut Tia Rahmania, M.Psi., seorang psikolog dari Universitas Paramadina yang dikutip dari ANTARA, Sabtu, 28 Maret 2026, menjelaskan dampak pembatasan media sosial pada mental dan emosional anak, yakni pembatasan secara proporsional atau bukan larangan total cenderung mengurangi overstimulasi (dopamin overload dari konten cepat), kecemasan sosial (social comparison), serta paparan risiko (cyberbullying, grooming).
Dari beberapa pendapat tersebut diatas kita dapat melihat ada beberapa dampak yang ditimbulkan dari Media sosial terhadap remaja, yaitu:
Peluang
- Media sosial memungkinkan remaja membangun personal branding dan jejaring profesional.
- Platform digital membuka peluang bisnis kreatif dan pengembangan diri.
Tantangan
- Tekanan sosial yang dapat menyebabkan stres dan kecemasan.
- Risiko cyberbullying yang berdampak negatif pada kesehatan mental.
- Adiksi digital yang mengganggu keseimbangan hidup.
Solusi
- Peningkatan literasi digital untuk penggunaan media sosial yang sehat.
- Manajemen waktu online agar tidak berlebihan.
- Dukungan komunitas dan keluarga dalam menghadapi tekanan digital.
Media sosial adalah pedang bermata dua bagi remaja. Dengan pemahaman dan pengelolaan yang tepat, media sosial dapat menjadi alat pemberdayaan, bukan sumber tekanan. Penting bagi semua pihak untuk bersama-sama menciptakan lingkungan digital yang sehat dan mendukung perkembangan generasi muda Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....