Jahe: dari Bahan Herbal Jadi Risiko, Kenali Pemicunya!

  • 28 Feb 2026 10:06 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Jahe (Zingiber officinale) merupakan salah satu bagian dari rimpang yang termasyhur akan khasiatnya dalam menghangatkan tubuh. Namun, seperti banyak hal baik lainnya, jahe tetap berisiko, khususnya individu yang mengonsumsi obat diabetes atau pengencer darah.

Dilihat fungsinya sebagai bumbu masakan, jahe masih tergolong aman bagi mayoritas orang. Dikutip dari National Center for Complementary and Integrative Health Sabtu 28 Febuari 2026, keluhan atas jahe mulai muncul ketika jahe dikonsumsi dalam dosis tinggi atau bentuk suplemen pekat.

Kajian interaksi herbal dan obat tahun 2021 mencatat jahe sebagai tanaman yang patut diwaspadai apabila dikonsumsi dengan antikoagulan. Jahe rupanya dapat memengaruhi kerja obat tertentu, termasuk obat diabetes dan pengencer darah.

Jurnal Phytotherapy Research (2020) serta International Journal of Cardiology (2018) menunjukkan jahe memiliki efek antiplatelet (memengaruhi pembekuan darah). Pada individu yang mengonsumsi obat pengencer darah seperti warfarin atau aspirin, efek ini bahkan bisa meningkatkan risiko perdarahan.

Dalam kaitannya dengan puasa, kita biasanya mengonsumsi jahe dalam sajian minuman saat berbuka atau sahur. Namun, bagi individu dengan riwayat gangguan lambung, zat aktif jahe yang dikonsumsi saat lambung kosong dapat memicu perih.

Badan Pengawas Obat dan Makanan juga menekankan jika herbal bukan tanpa risiko. Dosis, cara pengolahan, dan kondisi medis individu tetap harus diperhatikan.

Lantas, dalam kadar berapakah jahe masih aman dikonsumsi? Berbagai literatur klinis menyebut konsumsi jahe sekitar 3–4 gram per hari termasuk rentang yang ditoleransi orang sehat.

Kendati demikian, angka di atas bukan patokan mutlak untuk semua orang. Usia, penyakit penyerta, dan obat yang sedang dikonsumsi ikut menentukan aman atau tidaknya mengonsumsi jahe.

Bagaimana pun, jahe tetaplah jahe. Rempah dengan 101 manfaat dan telah digunakan selama berabad-abad.

Ia membantu meredakan mual, memberi efek hangat, dan memiliki sifat antioksidan. Meskipun konsumsi jahe dalam kadar yang banyak juga tidaklah baik dan menimbulkan risiko yang patut diwaspadai.

Ramadan mengajarkan balancing yang dalam hal jahe pun prinsip itu tetaplah sama. Cukup dan bijak memahami kondisi diri adalah dua kunci utama dalam mengantisipasi bahaya jahe.

Selagi dalam batas aman, dan tidak mempunyai penyakit penyerta, jahe bisa jadi pilihan yang baik untuk berbuka ataupun sahur karena efek hangatnya yang bisa melegakan dan menyegarkan tubuh. Jadi, bagaimana? Mau buka puasa apa hari ini?

Penulis: Sonia Permata

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....