Deteksi Dini Gangguan Mental pada Siswa Perlu Diperkuat

  • 26 Feb 2026 11:20 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Sekitar 10 ribu siswa dari jenjang SD, SMP hingga SMA di Bandung dilaporkan mengalami gangguan kesehatan mental. Kondisi ini menjadi perhatian serius berbagai pihak, terutama dalam upaya pencegahan dan penanganan sejak dini di lingkungan pendidikan.

Hal tersebut disampaikan Masdum Ibrahim, S.Kep., Ners., M.Kes saat wawancara di PRO 1 RRI Bandung, Rabu, 25 Februari 2025 pukul 08.00 WIB. Ia menjelaskan bahwa persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja tidak bisa dilihat dari satu faktor penyebab saja.

“Kalau berbicara tentang kesehatan mental ada yang namanya multi kausa. Multi itu banyak, kausa itu penyebab. Jadi bisa disebabkan dari banyak faktor,” ujarnya.

Menurutnya, faktor penyebab dapat berasal dari lingkungan terdekat siswa, seperti suasana rumah, pola asuh orang tua, lingkungan pertemanan, hingga kepribadian anak itu sendiri. Ia menegaskan bahwa persoalan ini sangat kompleks karena melibatkan faktor internal dan eksternal secara bersamaan.

Meski demikian, ia menyebut secara umum tidak selalu terlihat masalah yang signifikan. Namun, masyarakat awam tetap bisa mengenali indikasi awal gangguan mental dari perubahan perilaku anak. “Secara umum tidak ada masalah yang signifikan, tapi mungkin bisa dilihat secara nyata jika terdapat ciri-ciri anak kita merasa murung, menyendiri, ada penurunan minat. Itu bisa menjadi indikasi awal gangguan mental,” katanya.

Ia menekankan pentingnya kerja sama antara orang tua dan pihak sekolah dalam memantau perkembangan mental siswa. Menurutnya, menyekolahkan anak bukan berarti menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab kepada guru, melainkan tetap membutuhkan keterlibatan aktif keluarga.

Pertemuan antara orang tua dan guru, lanjutnya, sebaiknya tidak hanya dilakukan saat pembagian rapor, tetapi juga secara berkala agar perkembangan siswa dapat dipantau secara berkelanjutan melalui komunikasi dua arah yang aktif dan rutin. Ia pun mengimbau para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak serta tidak ragu mencari bantuan profesional demi mencegah gangguan kesehatan mental berkembang lebih serius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....