Kasus TBC di Kota Bandung Capai 18 Ribu Lebih

  • 19 Feb 2026 12:49 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Kasus tuberkulosis (TBC) di Kota Bandung masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Sepanjang tahun 2025, jumlah kasus TBC tercatat mencapai 18.846 kasus, didominasi oleh kelompok usia dewasa. Secara regional, Kota Bandung menempati posisi kedua terbanyak kasus TBC di Provinsi .

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dadan M. Kosasih, mengatakan tingginya angka tersebut menjadi alarm bagi pemerintah untuk melakukan langkah penanggulangan yang lebih masif dan tidak biasa.

“Di Bandung kita masih dikatakan banyak kasus TBC dan di Jawa Barat sendiri, Bandung itu kedua terbanyak penderita TBC. Itu menjadi perhatian kami, Pemerintah Kota Bandung, bahwa ini memang harus ada upaya penanggulangan yang lebih, tidak biasa,” ujar Dadan di temui di balaikota Bandung, Kamis 19 Februari 2026.

Untuk memperkuat upaya tersebut, Dinas Kesehatan Kota Bandung mengundang seluruh camat se-Kota Bandung agar turut serta dalam penanganan TBC di wilayah masing-masing. Pertemuan tersebut juga dihadiri Sekretaris Daerah dan mendapat dukungan penuh dari jajaran kewilayahan.

Menurut Dadan, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengendalikan penyebaran TBC. Materi terkait strategi penanggulangan disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung. Respons dari para camat dinilai sangat positif dan seluruh pihak menyatakan kesiapan untuk berkoordinasi secara intensif.

Dadan menjelaskan, kasus TBC yang ditemukan di lapangan sangat beragam. Tidak semua pasien datang dengan gejala khas. Bahkan, ada sejumlah kasus yang terdeteksi tanpa keluhan berarti, setelah dilakukan skrining.

“Ada yang tanpa gejala, dilakukan skrining ternyata TBC. Ada yang memang sudah bergejala terutama batuk,” jelasnya.

Gejala khas TBC antara lain batuk lebih dari dua minggu yang tidak kunjung sembuh, penurunan berat badan, serta keringat berlebih pada malam hari. Selain itu, beberapa pasien datang dengan keluhan tidak spesifik seperti demam berkepanjangan.

Ia juga mengutarakan, terdapat kasus TBC yang ditemukan pada ibu hamil tanpa keluhan khas. Hal ini menunjukkan pentingnya deteksi dini melalui pemeriksaan rutin di fasilitas kesehatan.

“Kalau muncul gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, berat badan turun, dan keringat malam, sebaiknya segera diperiksakan ke puskesmas untuk dilakukan skrining TBC agar bisa segera diobati,” tegasnya.

Terkait pengobatan, Dadan menjelaskan bahwa terapi TBC di Indonesia saat ini masih mengacu pada pedoman Kementerian Kesehatan dengan durasi minimal enam bulan. Meski secara global telah tersedia regimen baru dengan durasi empat bulan, penerapannya di Indonesia masih menunggu kebijakan resmi pemerintah pusat.

“Minimal enam bulan pengobatan. Ke depan mungkin bisa empat bulan tergantung kebijakan Kementerian Kesehatan menggunakan regimen obat yang mana,” katanya.

Ia menegaskan, kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan hingga tuntas sangat penting untuk mencegah penularan dan resistensi obat.

Selain pengobatan, langkah pencegahan juga menjadi fokus utama. Dadan menekankan pentingnya pemeriksaan terhadap kontak erat atau anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC.

“Kalau ada yang sudah terdiagnosis TBC, maka kontak serumahnya harus diperiksa. Kalau positif segera diobati. Kalau negatif, bisa diberikan terapi pencegahan TBC atau TPT (Terapi Pencegahan Tuberkulosis),” tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....