Puskesmas Garuda Jadi Rujukan Layanan HIV

  • 23 Des 2025 12:17 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung; Pendekatan pelayanan yang komprehensif, humanis, dan bebas stigma menjadikan Puskesmas Garuda sebagai salah satu rujukan utama layanan HIV di Kota Bandung. Melalui sistem layanan yang terintegrasi serta kolaborasi lintas sektor, ratusan Orang Dengan HIV (ODHIV) mampu bertahan menjalani pengobatan secara rutin dan berkelanjutan, sekaligus mempertahankan kualitas hidup yang baik.

Pengelola Program HIV Puskesmas Garuda, Dwi Juniarti Rasmedi, menjelaskan bahwa layanan HIV di Puskesmas Garuda dirancang secara menyeluruh. Pelayanan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada upaya pencegahan, deteksi dini, hingga dukungan psikososial bagi pasien.

“Layanan HIV di sini meliputi tes HIV, pemeriksaan dan pengobatan Infeksi Menular Seksual (IMS), terapi antiretroviral (ARV), skrining tuberkulosis (TBC), skrining hepatitis B dan C, layanan harm reduction, PrEP untuk pencegahan HIV, serta rujukan layanan psikolog,” ujar Dwi saat ditemui di Puskesmas Garuda, Senin (22/12/2025).

Baca juga:Dinkes Garut: Populasi Tikus Melebihi Ambang Batas

Ia menambahkan, skrining TBC dilakukan secara rutin setiap kali pasien datang berkunjung, sementara skrining hepatitis B dan C dilakukan minimal satu kali dalam setahun. Langkah tersebut dinilai sangat penting mengingat ODHIV memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai penyakit infeksi oportunistik.

Hingga November 2025, tercatat sebanyak 177 ODHIV aktif menjalani terapi ARV secara rutin di Puskesmas Garuda. Mayoritas pasien berada pada rentang usia 19 hingga 35 tahun, yang merupakan usia produktif.

“Ini menjadi perhatian serius karena mereka adalah generasi produktif. Jika kesehatannya terjaga, mereka tetap bisa bekerja, berkarya, dan berkontribusi bagi masyarakat,” ucapnya.

Dwi juga memastikan bahwa ketersediaan obat ARV di Puskesmas Garuda saat ini berada dalam kondisi aman. Namun, program pengambilan obat untuk jangka waktu tiga bulan sekaligus atau multi-month dispensing belum sepenuhnya dapat diterapkan karena keterbatasan stok.

Selain layanan medis, Puskesmas Garuda turut didukung pendampingan dari berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Salah satunya adalah LSM Srikandi Pasundan, yang aktif melakukan penjangkauan dan pendampingan bagi ODHIV.

Pendamping lapangan LSM Srikandi Pasundan, Ian, menjelaskan bahwa peran LSM sangat penting dalam menjangkau kelompok berisiko, mengajak masyarakat untuk melakukan tes HIV, serta memastikan pasien yang terdeteksi positif mau mengakses layanan kesehatan dan tidak putus pengobatan.

“Kami melakukan penjangkauan di lapangan, lalu merujuk ke puskesmas. Jika hasilnya positif, kami dampingi agar tetap berobat dan patuh minum obat,” katanya.

Menurutnya, tantangan terbesar di lapangan adalah stigma, ketakutan masyarakat untuk mengetahui hasil tes, hingga kejenuhan pasien dalam menjalani pengobatan jangka panjang. Tidak jarang, terdapat pasien yang memilih berhenti minum obat dan beralih ke pengobatan alternatif.

“Kalau berhenti berobat risikonya sangat besar. Ada yang kondisinya drop, bahkan sampai meninggal. Itu yang selalu kami ingatkan kepada pasien,” ucapnya.

Ian juga mengungkapkan bahwa sebagian besar pasien yang menjalani pengobatan di Puskesmas Garuda justru berasal dari luar Kota Bandung, seperti Jakarta, Sukabumi, Subang, hingga Tangerang.

“Mereka merasa nyaman di sini. Ada yang rela datang jauh-jauh sebulan sekali karena merasa dilayani dengan baik dan manusiawi,” katanya.

Kenyamanan layanan tersebut dibenarkan oleh salah seorang pasien ODHIV asal Bandung yang namanya disamarkan. Ia mengaku mulai menjalani pengobatan sejak tahun 2022, setelah mengalami penurunan berat badan drastis dan kondisi fisik yang terus melemah.

“Berat badan saya turun jauh, tenaga drop. Dari situ saya langsung periksa dan akhirnya rutin berobat di sini,” tuturnya.

Ia juga menceritakan pengalaman kurang menyenangkan saat mencoba mengakses layanan kesehatan di luar Bandung. Perlakuan bernuansa stigma dan penghakiman membuatnya memilih kembali menjalani pengobatan di Puskesmas Garuda.

“Di luar kota saya sempat dimarahi dan dihakimi. Di sini beda, pelayanannya ramah, tidak menghakimi, malah diberi arahan supaya tetap sehat,” ungkapnya.

Berkat kepatuhan menjalani terapi ARV, kondisi kesehatannya kini stabil dan berat badannya kembali ideal. Ia pun mengajak sesama ODHIV untuk tidak menyerah dan tetap disiplin menjalani pengobatan.

“Minum obat itu kunci hidup. Jangan benci diri sendiri, berdamai dengan keadaan, dan tetap jaga kesehatan,” tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....